Senin , 09 Februari 2015, 15:26 WIB

Indeks Kebahagiaan, Pendidikan Terendah di Sumbar

Rep: C70/ Red: Djibril Muhammad
salon.com
Kebahagiaan yang menular/ilustrasi
Kebahagiaan yang menular/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), indeks kebahagiaan di Sumbar pada 2014 sebesar 66,79 pada skala 0-100.

Indeks kebahagiaan ini merupakan indeks komposit yang disusun berdasarkan tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan.

Kepala BPS Sumbar, Yomin Tofri mengatakan, tingkat kepuasan tertinggi yaitu aspek keharmonisan keluarga sebesar 78,87.

"Sedangkan tingkat kepuasan terendah adalah aspek pendidikan sebesar 57,04," katanya di Kantor Pemerintah Provinsi Sumbar, Senin (9/2).

Ia menjelaskan, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula indeks kebahagiaannya. Penduduk yang tidak atau belum pernah sekolah, kata dia, mempunyai indeks kebahagiaan paling rendah, sebesar 61,27.

Sedangkan indeks kebagiaan tertinggi di aspek pendidikan, ditempati oleh seseorang yang berpendidikan S2 atau S3, sebesar 80,27.

Sementara itu ditemui ditempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Syamsul Rizal menuturkan, selama ini memang anak-anak sekolah menganggap sekolah bukan tempat yang menantang.

"Banyak anak yang merasa tertekan berada di sekolah," ujar Syamsul.

Ia mengatakan, banyak anak-anak sekolah payah dalam memahami mata pelajaran. Salah satu alasannya karena guru-guru yang payah dan membosankan dalam memberikan penjelasan.

Selama ini katanya, sangat minim pelatihan untuk para guru-guru. Sehingga tidak ada penyegaran dari materi maupun cara mengajar. Banyak guru yang kurang mempunyai inisiatif dalam proses belajar mengajar.

"Penguatan belajar hampir mendekati 70 persen, tidak memenuhi standar minimal (pendidikan)," lanjutnya.

Tidak terpenuhinya standar pendidikan nasional, tambahnya, karena perpustakaan yang masih minim. Banyak dari para siswa yang belum memanfaatkan perpustakaan yang ada. Juga laboraturium yang belum termanfaatkan dengan baik.

"Hal tersebut bisa menjadi penyebab anak-anak tak bahagia belajar di sekolah," ungkapnya.