Rabu , 13 September 2017, 14:26 WIB

Pemerintah Lihat Kebutuhan untuk Susun Program Daerah 3T

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih
ROL/Abdul Kodir
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melihat kebutuhan pembelajaran di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dalam menyusun program pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah memiliki sejumlah program besar untuk daerah 3T, seperti guru garis depan (GGD), pembangunan gedung, sarara prasarana penunjang, tenaga kependidikan.

"Program itu akan kita sesuakan dengan tingkat kebutuhan pembelajaran yang paling diprioritaskan," kata Muhadjir Effendy di Jakarta, Selasa (12/9).

Tidak jarang ia mengimbau pada pegiat literasi untuk ikut menangani siswa di wilayah pinggiran. Tujuannya, agar siswa itu memiliki kemampuan sejajar ihwal tingkat penguasaan literasi dengan teman daerah lain.

Sementara itu Pelaksana tugas Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Hamid Muhammad mengatakan pemerintah selalu mengevaluasi program GGD, mulai dari kinerja, konsistensi bekerja, dan penerimaan daerah terhadap para guru. Pemerintah, ia melanjutkan akan kembali mengusulkan GGD pada tahun depan. Namun, ia menyebut akan ada perubahan pola dalam program GGD.

Salah satunya, yakni memasukkan guru yang sudah lama mengabdi di daerah terpencil dalam program GGD. Rencana itu merupakan ususlan dari beberapa daerah.

Namun, Hamid mengatakan guru garis depan harus memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah, seperti, lulusan S-1 dan ikut pendidikan profesi guru (PPG) selama dua semester.

"Jadi harus sekolah dulu, karena tanpa itu kan nggak bisa," ujar Hamid.