Selasa , 12 September 2017, 22:30 WIB

Guru Garis Depan, Mengubah ‘Neraka’ Jadi ‘Surga’

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ratna Puspita
Guru mengajar kelas. (Ilustrasi)
Guru mengajar kelas. (Ilustrasi)

“Ubahlah neraka menjadi surga,” kata Siti Zaenab Mbalu seraya menirukan amanah pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, kepadanya saat baru tiba di Kota Oksibil pada awal Agustus 2017 lalu. Rasanya, tidak berlebihan kata-kata yang diamanahkan padanya. Sebab, ia melihat kondisi pendidikan yang memprihatinkan di Distrik Iwur, Kota Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Perempuan asal Gorontalo itu mengisahkan sejumlah sekolah tidak memiliki sarana prasarana yang layak untuk kegiatan belajar mengajar. Selain itu, alat peraga pendidikan hanya sedikit. Pun mereka berusia uzur, tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan saat ini.

Sempat terbesit keinginan untuk menyerah beberapa hari setelah menginjakkan kaki di Distrik Iwur. Cuaca yang dingin membuatnya terus berpikir untuk melanjutkan niatnya mengikuti program guru garis depan (GGD). Apalagi, ada tantangan transportasi sehingga butuh waktu cukup lama menuju Distrik Iwur.

Zaenab perlu menyambung pesawat berkapasitas 30 orang menuju Kabupaten Pegunungan Bintang. Perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek seharga Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Maklum harga bahan bakar minyak senilai Rp 40 ribu.

Namun, Zaenab luluh melihat semangat anak-anak belajar. Mereka selalu memperhatikan setiap kata dan gerak Zaenab. Sikap kekeluargaan masyarakat semakin membuatnya nyaman. “Mereka membutuhkan kami. Saya harus mendidik apa yang tak tahu, jadi tahu,” tutur dia.

Terhitung Agustus lalu, Zaenab mengajar IPA di SMPN Satu Atap Iwur. Ia mengaku beruntung dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam dan lingkungan untuk mengajar.

Sebanyak 88 anak bersekolah di SMPN Satu Atap Iwur. Sebagian besar dari anak-anak butuh waktu empat hingga lima jam untuk sampai di sekolah. “Mereka transportasinya hanya kaki,” ujar Zaenab.

Ia bersama 29 Guru Garis Depan yang dikirim ke Kabupaten Pegunungan Bintang berniat memulai dengan mendidik karakter anak-anak. Sejak awal Agustus 2017 lalu, ia mulai memahami dan mempelajari karakter anak-anak yang keras kepala dan pekerja keras. “Pelajaran tak bisa dipaksakan, harus pelan-pelan,” jelasnya.

Sementara itu, Yulius Erwin Prana Rendra bertekad membawa pengaruh baik di daerah terpencil. Ia menyadari daerah-daerah tersebut masih memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan. “Informasi yang berkembang tidak banyak di daerah-daerah itu,” kata pria yang akan mengambil di Natuna itu.

Guru matematika itu menyebut kualitas pendidikan harus diiringi dengan pemerataan tenaga pengajar. Selain itu, salah satu permasalahan pendidikan di daerah terpencil, yakni pemenuhan sarana pra sarana dan alat peraga pendididkan. Itu juga berdasarkan pengalamannya mengikuti Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) tiga tahun lalu.

Kendati demikian, ia ingin memanfaatkan lingkungan sekitar untuk memberi pemahaman matematika. “Biasanya mengajar nggak melulu di dalam kelas,” jelasnya.

Ia mengtakan pendidikan karakter juga menjadi salah satu prioritas yangakan diberikan pada anak-anak. Ia tidak ingin anak-anak meninggalkan kultur budaya di Natuna. 

Berita Terkait