Senin , 11 September 2017, 08:32 WIB

Untuk Teman-Teman Rohingya, From Bogor With Love

Red: Irwan Kelana
Dok SCB
Kain berisi cap tanda tangan dari para siswa SMP Cendekia Baznas untuk anak-anak Muslim Rohingya.
Kain berisi cap tanda tangan dari para siswa SMP Cendekia Baznas untuk anak-anak Muslim Rohingya.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Krisis kemanusiaan Rohingya, Myanmar,  menjadi derita tersendiri bagi anak-anak Rohingya. Kondisi belasan ribu  pengungsi di perbatasan Myanmar Bangladesh sungguh mengenaskan. Di antara para pengungsi itu terdapat anak-anak.

Para Siswa SMP Cendekia Baznas,terpanggil untuk ikut memberikan dukungan bagi anak-anak pengungsi Rohingya. Sebagai bentuk dukungan bagi saudara-saudara sebaya mereka di Rohingnya, para siswa SMP Cendekia Baznas mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) berupa pengumpulan cap tangan anak-anak.

Mengutip Kak Seto Mulyadi, ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), kain berisi cap tangan anak-anak dari berbagai sekolah akan diserahkan langsung ke PBB dan/atau ASEAN.

Di SMP Cendekia Baznas, pembuatan cap tangan dilakukan pada  Sabtu (9/9). Seluruh siswa bergantian memberikan cap tangan mereka di selembar kain putih.

Di hadapan para siswa, pembina asrama SMP Cendekia Baznas   Hasan Tutupoho memaparkan kondisi Rohingya dan kewajiban sebagai sesama Muslim. “Dukungan cap tangan akan menjadi bagian dari upaya tidak melakukan pembiaran terhadap bencana kemanusiaan terhadap anak-anak Muslim Rohingya. Inilah salah satu bentuk kepedulian kita kepada teman-teman di Rohingya. From Bogor with love (Dari Bogor, dengan  cinta),” tegas Hasan Tutupoho.

SMP Cendekia Baznas berlokasi di Kampung Cirangkong, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang,  Bogor, Jawa Barat.  Ini  merupakan sekolah bebas biaya bagi siswa siswi yang orang tuanya mengalami kendala di bidang ekonomi dan  masuk kelompok fakir miskin.

Sebagai sekolah menengah pertama berasrama bebas biaya, SCB memikul amanah untuk memastikan setiap rupiah dana zakat yang dikeluarkan memiliki kebermanfaatan luas. Dengan jumlah siswa 30 laki-laki dan 30 perempuan di angkatan pertama,  tim sekolah melakukan berbagai aktivitas.