Rabu , 06 September 2017, 13:51 WIB

Mohammad Reza Affandi Wakili Indonesia di PRET

Red: Agung Sasongko
Dok. Dompet Dhuafa
Reza, sapaan akrabnya merupakan salah satu penerima manfaat Beasiswa Kemitraan antara Dompet Dhuafa dengan PTT Exploration and Production (PTTEP) yang sedang menempuh pendidikan Kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya.
Reza, sapaan akrabnya merupakan salah satu penerima manfaat Beasiswa Kemitraan antara Dompet Dhuafa dengan PTT Exploration and Production (PTTEP) yang sedang menempuh pendidikan Kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa Indonesia kembali menunjukkan prestasinya di kancah Internasional. Mohammad Reza Affandi menjadi perwakilan Indonesia dalam Professional Research and Exchange Training (PRET) 10-15 Agustus 2017 di Taiwan. PRET merupakan salah satu training yang berfokus pada persiapan, manajemen, dan upgrading pengetahuan di bidang pertukaran riset dan mahasiswa kedokteran.

Training ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang minimal memiliki peran di organisasi kedokteran di negaranya, seperti koordinator lokal atau bahkan nasional, dan tidak menutup juga bagi mahasiswa yang memiliki rencana exchange dalam waktu dekat.

Professional Research and Exchange Training (PRET) merupakan bagian dari International Federation of Medical Student Association (IFMSA). Acara ini merupakan acara tahunan (dan beberapa Regio dua tahunan) yang diadakan oleh IFMSA untuk mencetak trainer-trainer baru IFMSA. T

rainer tersebut berperan untuk menyatukan pergerakan kegiatan mahasiswa kedokteran di seluruh dunia. Biasanya training tersebut diadakan di masing-masing Regio dari lima Regio IFMSA, yaitu Asia Pasifik, East Mediterania, Afrika, America, dan Eropa. Kali ini, training Regio Asia Pasifik diadakan di Taiwan. Meskipun tingkatnya Asia Pasifik, namun pesertanya boleh diikuti oleh Regio lainnya.  

Reza, sapaan akrabnya merupakan salah satu penerima manfaat Beasiswa Kemitraan antara Dompet Dhuafa dengan PTT Exploration and Production (PTTEP) yang sedang menempuh pendidikan Kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya. Ia berhasil mewakili Indonesia dalam kegiatan ini setelah melalui proses seleksi yang cukup sulit.

Setiap mahasiswa kedokteran dari seluruh dunia yang mendaftar dalam training ini diharuskan mengirimkan CV dan bukti pengalaman lainnya, motivation letter, dan rekomendasi. Hanya sekitar 20 mahasiswa dari seluruh dunia yang dapat diterima untuk mengikuti training. Mahasiswa yang diterima, dari paling dominan, adalah mahasiswa Taiwan, Indonesia, Hongkong, Thailand, Polandia, Iraq, India, Sudan, Etiophia, dan Malaysia.

Reza akhirnya lulus sebagai calon trainer IFMSA di bidang riset dan exchange. Kelulusan tersebut kemudian harus tersertifikasi dengan minimal telah menyampaikan materi training di wilayah masing-masing, maksimal enam bulan setelah kepulangan. Sertifikasi tersebut menjadi bukti keahlian dan kemampuan sehingga dapat diaplikasikan di wilayah masing-masing. Dapat juga digunakan sebagai syarat trainer untuk sub regional training di Regio lain.

Melalui prestasi ini diharapkan kelak Reza dapat memberikan training kedokteran bidang riset dan exchange, sehingga mampu mencetak dokter yang berkualitas bidang riset dan exchange di Indonesia.