Senin , 07 August 2017, 15:03 WIB

Sastra Mampu Pererat Hubungan Negara di Asia Tenggara

Rep: umi nur fadhilah/ Red: Esthi Maharani
ist
Sastra Indonesia, ilustrasi
Sastra Indonesia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meyakini sastra mampu mempererat hubungan negara di Asia Tenggara.

"Kita ada tradisi sastra, Asia Tenggara luar biasa," kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan ada hubungan antara sastra di negara Thailand, Malaysia, Indonesia karena berbagai hal, seperti sejarah dan kebudayaan. Sejarah dan kebudayaan di Asia Tenggara tidak lepas dari pengaruh India dan Cina. Pun juga banyak koneksi atau hubungan yang selama ini belum pernah dijelajahi.

Hilmar mengatakan, bicara ASEAN tidak lepas dari topik ekonomi dan politik. Sayangnya, isu kebudayaan kurang disentuh. Padahal, kebudayaan adalah salah satu yang menghubungkan negara di Asia Tenggara.

Hilmar tidak menampik negara-negara Asia Tenggara memiliki masalah yang serupa, yakni literasi dan kebebasan berekspresi melalui sastra. Namun, ia mengingatkan, Asia Tenggara memiliki tradisi sastra lisan. Sehingga, kemampuan membaca bukan sesuatu yang mutlak.

Menurutnya, dengan pertunjukkan cerita Panji, bisa menyatukan berbagai negara. Walaupun masing-masing negara menampilkan dengan gaya yang berbeda. Hilmar menyebut kebebasan ekspresi merupakan isu besar. Sebab, situasi di kawasan Asia Tenggara naik turun. Menurutnya Indonesia mengalami proses lebih santai setelah reformasi 1998 dibandingkan negara lainnya.

"Kita ada problem macam-macam, tapi pengaruhnya kebebasan ekspresi soal yang harus diperhatikan," jelasnya.