Rabu , 26 Juli 2017, 21:40 WIB

Pendidikan Pertanian Diarahkan Berbasis Vokasi

Red: Yusuf Assidiq
Antara
Pertanian
Pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) RI melakukan proses transformasi pendidikan pertanian. Nantinya, pendidikan pertanian yang diselenggarakan akan lebih diarahkan pada pengembangan ilmu-ilmu terapan atau vokasi.

Dijelaskan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Momon Rusmono, upaya yang dilakukan yakni dengan meningkatkan status Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

“Saat ini, terdapat tujuh STTP antara lain di Medan, Bogor, Malang, Yogyakarta, Magelang, Gowa, serta Manokwari,” ujarnya, di sela kegiatan Pertemuan Guru Sejenis untuk Persiapan Pendirian Politeknik Pembangunan Pertanian, di Yogyakarta, Rabu (26/7).

Di samping itu, lanjut dia, peningkatan status kelembagaan menjadi politeknik juga dilakukan terhadap tiga SMK Pertanian Pembangunan (PP) yang berada di Banjar Baru Kalimantan Selatan, Sembawa Sumatra Selatan, dan Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurutnya, seiring perubahan konsep pendidikan ini diharapkan dapat lebih memperkuat pendidikan vokasi bidang pertanian. Momon menambahkan, ke depan pendidikan pertanian akan berbasis pada konsep ‘teaching factory’ atau pembelajaran yang berorientasi pada produksi dan bisnis.

Ia menuturkan, pihaknya menargetkan transformasi pendidikan ini sudah bisa terealisasi pada 2018 mendatang. “Untuk itu, berbagai penyesuaian terus dikerjakan,” ujarnya.

Mulai dari pengalihan fungsi guru SMK PP menjadi dosen, penyiapan kurikulum pendidikan, pemenuhan dan optimalisasi sarana dan prasarana sesuai program studi yang diselenggarakan, dan sebagainya.

Kendati demikian, Momon menekankan, pengembangan program studi yang akan dibuka hendaknya mempertimbangkan kompetensi maupun keahlian guru SMK PP. "Begitu pula kurikulum dan sistem pembelajaran dirancang secara spesifik dengan memetakan komoditas unggulan sesuai minat dan kemampuan mahasiswa," kata dia, dalam siaran pers.  

Lebih lanjut diharapkan institusi pendidikan tersebut mampu menghasilkan sumber daya yang terampil dan ahli di bidang pertanian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan.

“Mereka nantinya tak hanya bisa menciptakan beragam inovasi pertanian, melainkan juga membuka lapangan pekerjaan,” kata Momon.