Kamis , 20 April 2017, 15:16 WIB

Guru Produktif untuk Mencetak Lulusan Terampil

Red: Muhammad Hafil
Muhammad Hafil/Republika
Sejumlah guru peserta pelatihan guru produktif di SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta
Sejumlah guru peserta pelatihan guru produktif di SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil/Wartawan Republika.co.id

 

Sebanyak sembilan orang guru dari berbagai daerah di Indonesia tengah merangkai komponen listrik perkapalan di ruang praktek SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta, Jakarta Timur. Kesembilan orang guru itu dipandu oleh seorang instruktur yang berlatar belakang pendidikan kemaritiman.

Mereka yang dibagi menjadi tiga kelompok itu terlihat antusias saat melakukan tugasnya. Ada yang bertugas memasang kabel dan mengukur daya listrik. Sesekali intruktur pelatihan itu menghampiri masing-masing kelompok. Tujuannya untuk mengoreksi pekerjaaan kesembilan orang guru tersebut. 

Salah satu peserta, Thomas Fredik Kaligis, yang merupakan guru sejarah di SMKN 5 Balikpapan mengungkapkan rasa senangnya mengikuti pelatihan ini. Karena, setelah satu bulan mengikuti pelatihan ini dia mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan dalam bidang ilmu pelayaran dan kemaritiman.

"Karena dasar kami adalah guru normatif adapatif. Dengan pelatihan ini, kami bisa menjadi guru produktif. Dengan sendirinya, kami bisa mendapat pengetahuan yang kami tidak punya sebelumnya," kata Fredik kepada Republika.co.id, Kamis (20/4).

Fredik berharap bisa mengikuti pendidikan ini yang terbagi dalam beberapa tingkatan hingga lulus. Bahkan, dia bertekad untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi di bidang pendidikan pelayaran dan kemaritiman.

Sehingga, dia benar-benar bisa menjadi guru produktif dan bisa membantu jurusan Nautika Niaga di SMK tempatnya mengajar. "Kebetulan di jurusan itu memang kurang guru. Kalau kurang guru kan kurang jam belajar, kalau kurang jam nanti berdampak ke kompetensi siswa sekolah yang belajar di sana," kata Fredik.

Fredik mengatakan, selama sebulan mengikuti pelatihan ini, dia tidak hanya mendapatkan teori. Tetapi juga praktek lapangan. Bahkan, dia mengaku sudah sempat praktek di kapal yang berlayar di laut.

"Konsep pelatihan ini adalah 25 persen teori dan 75 persen praktek. Jadi kami bisa menerapkannya dengan mudah setelah kami lulus nanti," kata Fredik.

Instruktur pada pelatihan ini, Asril, yang merupakan guru dari SMKN 10 Padang, mengatakan, kesembilan orang guru itu awalnya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu kependidikan pelayaran dan kemaritiman. Namun, dengan adanya pelatihan ini mereka sekarang bisa diajar dari pengetahuan dasar. 

"Ya, sejatinya mereka kan sudah mendapatkan ilmu teori pendidikan. Tinggal kita tambah ilmu pelayaran dan kemaritiman ini agar mereka bisa menjadi guru produktif," kata Asril.

Kesembilan orang guru itu berasal dari berbagai daerah. Mereka adalah guru-guru non kependidikan maritim dan pelayaran yang bertugas di SMK bidang pelayaran dan maritim di daerah asalnya. Ada yang dari Kabupaten Paloppo, Kota Pontianak, Kota Balikpapan, dan Kota Padang. Ada juga guru dari SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta yang bukan mengajar ilmu pelayaran dan pendidikan.

Mereka adalah peserta Pendidikan Kilat In-1 Program Keahlian Ganda Angkatan I. Sebuah program yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mewujudkan fokus pemerintah dalam merevitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia.

Wakil Kepala Sekolah SMK Pelayaran Pembangunan Jakarta, Adah Suhandi, yang menjadi tuan rumah pada pelatihan ini menjelaskan, pelatihan ini merupakan realisasi dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Di mana, tujuannya adalah untuk  peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar bisa bersaing.

Inpres tersebut dikeluarkan pada tanggal 9 September 2016 di Jakarta dan ditujukan kepada 12 Menteri Kabinet Kerja (termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), 34 Gubernur, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Setelah itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merealisasikannya dengan membuat program guru produktif. Untuk guru produktif bidang pelayaran dan kemaritiman, SMK Pelayaran Pembangunan dipilih menjadi salah satu pusat pendidikan bagi guru-guru umum yang dipilih menjadi guru produktif di bidang ini.

"Jadi, maksud guru-guru adaktif dan normatif diarahkan memiliki keahlian ganda dan dididik menjadi guru produktif. Misalnya, guru sejarah bisa mengajar ilmu nautika niaga," kata Adah.

Adapun proses belajaranya, ada beberapa tingkatan yang harus dilalui oleh calon guru-guru produktif tersebut. Yakni, On-1, In-1, On-2, In-2, dan yang terakhir nanti ada ujian sertifikasi dan pengujiannya.

Adapun pengertiannya yakni, On-1 para peserta pelatihan belajar di daerah asalnya dengan modul, In-1 para peserta mendapatkan penguatan materi produktif (teori dan praktek) dan bertempat di diklat, On-2, peserta sudah mulai magang produktif di laboraturium atau bengkel, dan In-2 di mana para peserta mengikuti pelatihan penajaman materi produktif dan tempat belajar di balai diklat atau SMK rujukan.

Menurut Adah, semua program ini adalah salah satu bentuk realisasi program revitalisasi pendidikan vokasi atau SMK. Tujuannya, setelah para guru itu menjadi guru produktif, mereka bisa mengajar kembali di sekolah asalnya dan menciptakan lulusan-lulusan SMK yang berkompeten untuk bisa bersaing.

Menurut Adah, di dunia pelayaran dan kemaritiman, sejauh ini kelemahannya adalah masih adanya lulusan SMK yang sulit bersaing. Salah satunya disebabkan oleh kendala bahasa. "Artinya kita bersaing dengan pelaut-pelaut luar seperti Filipina yang memang mereka terbiasa menggunakan bahasa Inggris," kata Adah. Namun, masalah itu diharapkan bisa diatasi karena salah satu modul pelatihan guru produktif adalah menguasai bahasa Inggris kemaritiman. 

 

Kurang guru produktif

Direktur SMK Kemendikbud, Mustaghfirin Amin mengatakan, kekurangan guru produktif merupakan salah satu persoalan untuk membangun SMK vokasi. Berdasarkan data Kemendikbud, jumlah guru produktif saat ini baru 80.000 dari jumlah 278.000 guru SMK negeri secara keseluruhan.

"Jumlah guru SMK Produktif masih kurang. Apalagi saat ini pemerintah sedang meningkatkan kualitas tenaga kerja terdidik melalui program SMK Inpres. Sehingga harus ditingkatkan jumlah guru produktif," kata Mustagfirin saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (20/4).

Karena itu, Mustaghfirin menjelaskan, penyetaraan dilakukan untuk mendapat pengakuan, agar mereka memiliki wewenang untuk mengajar. Penyetaraan merupakan sebuah strategi, karena SMK membutuhkan penambahan jumlah guru produktif.

Ke depannya, dikatakan dia, akan melakukan pemetaan penyaluran guru produkif. Sejauh ini guru produktif hanya berada di kota besar. Maka dengan adanya pengalihan SMA dan SMK ke provinsi diharapkan pemerintah daerah (Pemda) dapat memaksimalkan kekurangan guru tersebut. 

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyambut baik program guru produktif ini. Terutama, bagi kalangan dunia kemaritiman.

Menurut Asisten Deputi Pendidikan dan Pelatihan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, TB Haeru Rahayu, pendidikan vokasi sangat penting. Karena, menciptkan lulusan yang memiliki kemampuan. 

"Visi pemerintah menjadikan Indonesia sabagai Poros Maritim Dunia perlu didukung dengan ketersediaan SDM yang handal,” kata Haeru.

Namun, yang jadi masalah di lapangan adalah, untuk kemampuan di dunia pelayaran yang menentukan adalah IMO atau International Maritime Organization, sebuah organisasi kemaritiman internasional. "Jadi organisasi ini yang menyusun sebuah standar dunia kepelayaran," kata Haeru.

Sehingga, di dunia pendidikan pelayaran SMK, semua gurunya itu harus menguasai modul standar IMO. Idealnya, dunia pelayaran membutuhkan lulusan yang sudah memiliki pengalaman. "Jadi jangan sampai siswa yang diajarkan pelayaran tidak pernah masuk laut. Jadi gurunya juga harus ke laut jangan sampai dia mengajak siswa ke laut tapi tidak pernah ke laut," kata Haeru.

Karena itulah, program guru produktif ini bisa menjadi solusi atas guru-guru yang memiliki pengalaman. Karena, peserta guru produktif bidang pelayaran nanti juga harus memiliki jam tertentu berada di laut selama beberapa hari.