Kamis , 12 Desember 2013, 08:15 WIB

Orang Tua Siswa SD Tak Setuju Bahasa Inggris Dihapuskan

Rep: Andi Nur Aminah/ Red: Fernan Rahadi
activetalk.com.my
Anak-anak belajar bahasa Inggris/ilustrasi
Anak-anak belajar bahasa Inggris/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, CILANDAK -- Sejumlah orang tua siswa SD menyatakan tidak setuju jika pelajaran Bahasa Inggris dihapuskan dalam daftar mata pelajaran wajib di sekolah. Alasan mereka, saat ini Bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan anak didik sudah seharusnya diperkenalkan sejak dini.

''Salah besar jika pelajaran Bahasa Inggris dihapus. Ini bahasa dunia, bisa berbahasa Inggris membuat anak lebih percaya diri. Menghilangkan pelajaran ini adalah kesalahan fatal,'' ujar Bestari Abdullah, orangtua murid SDN Cilandak 12 Pagi, Kamis (12/12).

Menurutnya, saat bahasa Inggris paling banyak digunakan mulai dari kelompok bisnis, ilmuwan, kalangan medis, budayawan dan sebagainya. Jika siswa tidak diperkenalkan sejak dini, maka mereka akan tertinggal di banding yang lainnya.

Bestari mempertanyakan kebijakan Kemendikbud dan disepakati oleh Dinas Pendididkan DKI Jakarta untuk diterapkan pada tahun ajaran 2014/2015 mendatang.  Apalagi jika salah satu alasannya karena murid terlalu banyak membawa buku. Dia mengatakan, justru ada mata pelajaran lain yang seharusnya dihapuskan.

''Daripada Bahasa Inggris yang dihapus, mendihan PKN tuh, anak SD kokdisuruh belajar konstitusi, politik, itu kan terlalu jauh,'' kata Bestari.

Menurutnya, pelajaran anak SD sekarang terlalu berat dan tinggi levelnya. Materi yang diberikan, kata dia, cocokya untuk anak SMP atau SMA. Namun dia tak keberatan jika pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dihapuskan. Menurutnya, pelajaran Penjaskes bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.

Senada dengan Bestari, orangtua siswa lainnya, Dwi Aryani, mengatakan, jika Bahasa Inggris dihapuskan, sama saja dengan kemunduran bangsa dan pembodohan terselubung. ''Kita akan makin terbelakang. Selalu kalah bersaing dengan negara lain. Sekarang melamar kerja jadi operator saja tesnya pakai Bahasa Inggris,'' ujar Dwi.