Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Bantul Siap Tampung ABK di Sekolah Umum

Kamis, 21 Maret 2013, 10:53 WIB
Komentar : 0
Seorang guru mengajar di sebuah SMP.

REPUBLIKA.CO.ID,BANTUL--Dinas Pendidikan Menengah dan Nonformal Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap memfasilitasi pendidikan inklusi di sekolah umum bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

"Pada prinsipnya sekolah tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus (ABK),?sehingga setiap sekolah harus menyediakan pendidikan inklusi," kata Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan?Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Dikmenof Bantul Totok Sudarto, Kamis.

Menurut dia, hal itu sesuai arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tidak boleh ada diskriminasi terhadap siswa dari semua kalangan, dan siap menampung ABK jika memang ingin belajar di sekolah umum.

Ia mengatakan di Bantul memang tidak ada sekolah khusus bagi ABK, dan jika ada ABK yang ingin menempuh pendidikan, bisa melapor ke dinas, kemudian dari?dinas yang akan mengarahkan ke sekolah umum.

"Sekolah inklusi adalah sekolah umum yang menyediakan pendidikan inklusi, dan tahun ini di Kabupaten Bantul kebetulan ada beberapa sekolah yang memiliki siswa ABK, di antaranya SMK 1 Dlingo,?SMK 3 Kasihan, dan SMA Sedayu, masing-masing satu siswa," katanya.

Ia menyebutkan ABK yang ditampung di sekolah umum di antaranya siswa?yang lemah penglihatan atau "low vision", siswa dengan pemahaman yang rendah atau "slow leaner", kemudian tuna grahita, tuna rungu, dan sebagainya.

"Kebetulan pada ujian nasional tahun ini dua siswa ABK yang?akan mengikuti ujian itu, yakni siswa 'low vision' dari SMK 3 Kasihan, kemudian siswa 'slow leaner'?dari SMK Dlingo, serta yang lain masih kelas dua," katanya.

Menurut dia, secara teknis dalam ikut ujian nasional nanti bagi siswa "low vision" akan?dibantu pengawas dalam membaca soal, sementara bagi "slow leaner" akan melaksanakan ujian?secara terpisah sesuai program inklusi.

Ia mengatakan terkait pengajar pendidikan inklusi atau Guru Pembimbing Khusus?(GPK), Bantul belum memilikinya.

Oleh karena itu, saat ini masih dibantu Dinas Pendidikan?Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan memanfaatkan pengajar di sekolah luar biasa (SLB).
"Biasanya pengajar 'part time' yang datang seminggu dua kali. Selain membimbing?siswa, GPK

juga membimbing guru sekolah, sehingga bisa membantu kegiatan belajar mengajar(KBM) di sekolah agar berjalan dengan baik, meskipun terdapat siswa inklusi," katanya.

Redaktur : Taufik Rachman
Sumber : antara
266 reads
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu(QS.Al-Baqarah:45)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...