Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Mendikbud Sebut Bimbel Rusak Cara Berpikir Siswa

Rabu, 26 Desember 2012, 16:59 WIB
Komentar : 0
Republika/Edi Yusuf
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjamurnya lembaga bimbingan belajar (bimbel) bagai buah simakalama bagi dunia pendidikan Indonesia. Di satu sisi ikut berkontribusi mendorong siswa untuk belajar cepat menemukan solusi. Namun, di sisi lainnya ternyata merusak cara berpikir siswa.

“Siswa diajak untuk berpikir cepat mencari solusi sebuah persoalan. Berpikir shortcut itu merusak struktur berpikir siswa, meski benar,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh saat berkunjung ke kantor Republika di Jakarta, Rabu (26/12).
 
Pada tahap tertentu, metode pembelajaran bimbel sangat mendukung siswa mencari jangka pendek. Tapi konsekuensinya membuat alur berpikir mereka menjadi loncat-loncat. Struktur berpikir secara bertahap dan benar akhirnya diabaikan. Sayangnya, ketika dihadapkan pada persoalan berat di level tertentu siswa tidak berkutik lagi menghapinya.

“Proses berpikir secara benar itu yang harus dibenahi sekarang. Tidak boleh kita terjebak hanya pada cepatnya saja,” ujar Nuh.

 Mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) itu menyadari dampak buruk pendidikan yang diterima siswa di bimbel bisa dirasakan. Kalau dikaitkan dengan fenomena korupsi di Indonesia, bisa jadi lantaran sejak di sekolah siswa diajak berpikir cepat.

Alhasil ketika dewasa dan masuk birokrasi, kata Nuh, mereka selalu mencari jalan pintas untuk mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya. “Jalan pintas itu membuat orang sekarang korupsi dan faktanya moralitas rendah itu harus dievaluasi lewat kurikulum baru,” katanya.


Reporter : Erik Purnama Putra
Redaktur : Citra Listya Rini
10.338 reads
Sebaik-baik menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak berlama-lama) dan ta'ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja.((HR. Ad-Dailami))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  MIZAN S Rabu, 9 Januari 2013, 12:43
Selama pemerintah mengatur UNAS sampai pada kelulusan , Pasti guru-guru berorentasi pada UNAS, jadi guru mengedril soal saja, kalau kurang puas pasti ikut bimbel
  M.NUH ITS Rabu, 9 Januari 2013, 07:52
itu semua krn guru yg kita didik di perguruan tinggi negeri ilmu kependidikan masih kurang pinter jd butuh disertifikasi...guna menghabiskan APBN
  suka Selasa, 8 Januari 2013, 19:49
masalahnya guru sekolah terutama PNS banyak yg tidak terlalu smart. klo nerangin di sekolah sak penake dewe. soale yang dipikirkan sertifikasi cair.lagipula, jadi guru PNS pake duit juga. gurune korup. murid nyonto to?
  bg yoes Senin, 31 Desember 2012, 00:19
ketika terjadi kesalahan dalam dunia pndidikan kenapa harus bimbel yang di salahkan, apakah bapak nuh sudah melakukan penelitian dengan data yang akurat ketika beliau mengatakan bimbel menjadi pusat dari kesalahn..!!!
  budi hermawan Jumat, 28 Desember 2012, 13:52
klo bimbel membuat orang jadi korupsi sangat berlebihan, itu mungkin perkataan orang yang hampir putus asa mencari kambing hitam dari carut marutnya kurikulum sekolah saat ini dan mungkin itulah penyebab banyaknya korupsi.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda