Kamis , 12 October 2017, 00:19 WIB
190 Ribu Ruang Belajar Sekolah Rusak

5,7 Juta Siswa Belajar di Ruang tak Layak

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Agus Yulianto
Republika/Rizky Suryarandika
Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMA-SMK 2 Pasundan, Kota Tasikmalaya, Unang Sudarso tengah menyaksikan ruang kelas yang tak lagi digunakan akibat rusak (Ilustrasi)
Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMA-SMK 2 Pasundan, Kota Tasikmalaya, Unang Sudarso tengah menyaksikan ruang kelas yang tak lagi digunakan akibat rusak (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG- Sebanyak 190.513 ruang belajar sekolah di seluruh Indonesia mengalami kerusakan berat dan sedang. Jika dalam satu ruang terdapat 30 orang siswa, maka sekitar 5.7 juta anak belajar di ruang yang belum memadai. Kondisi tersebut sangat berisiko karena peserta didik terancam keselamatannya.

"Banyak ruang kelas rusak digunakan anak untuk kegiatan belajar mengajar. Jika dibiarkan akan berisiko tinggi kepada peserta didik atau tenaga pendidik," ujar Dadang Rusdiana, Anggota DPR Komisi X, Rabu (11/10) saat dihubungi.

Di sisi lain, Dadang menuturkan, anggaran untuk perbaikan ruang belajar terbatas. Dimana, pada APBN 2017 anggaran perbaikan ruang belajar sekitar untuk 39.918 ruang kelas, sedangkan pada tahun 2018 direncanakan hanya bisa diperbaiki sekitar 20.640 ruang kelas.

Menurutnya, diperlukan kebijakan khusus yang tidak hanya ditangani oleh kementerian sendiri. Akan tetapi, Presiden perlu mengeluarkan Intruksi Presiden (Inpres) untuk mengatasi persoalan tersebut sehingga masalah sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia bisa terselesaikan.

Bahkan, katanya, presiden bisa mendorong agar pihak swasta ikut berperan dalam menuntaskan permasalahan sarana pendidikan. Langkah tersebut ditempuh demi perbaikan peningkatan pendidikan dan bisa tercapai kalau didukung dengan sarana prasana yang memadai.

"Kalau sarana sudah bagus, para peserta didik akan merasa nyaman dan tenang dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di setiap sekolahnya," ungkapnya.

Dadang mencontohkan, pada tahun 80-an sekolah dibangun dengan Inpres dan itu mampu meningkatkan akses anak desa untuk mendapatkan pendidikan di sekolah yang dekat dengan rumah. "Sekarang kita butuhkan Inpres untuk mengatasi ruang belajar yang rusak," ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengungkapkan di Jawa Barat masih membutuhkan banyak ruang kelas. Katanya minimal terdapat penambahan 5.000 unit ruang kelas untuk tingkat SMA/SMK.


Berita Terkait