Jumat 10 Feb 2012 05:00 WIB

Akademisi Miskin Karya Tulis, Tanya Mengapa?

Ilustrasi
Ilustrasi

‘Nyerat atawa sakarat’ (Sunda), judul tulisan yang membetot perhatian saya. Tulisan ini saya baca & kunyah maknanya di tahun 2005 silam. Ungkapan kegelisahan tergurat jelas di balik isi tulisan ini. Si empunya tulisan, Prof. A. Chaidar Alwasilah (Guru Besar Bahasa di Universitas Pendidikan Indonesia) memang rajin menyoroti persoalan lemahnya budaya literasi masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan akademisi.

Pada pidatonya dalam pengukuhan guru besar tetap dalam bidang pendidikan bahasa & sastra, ‘Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menulis’, saya mendapatkan pula banyak pencerahan dari Prof. Alwasilah tentang pentingnya membangun budaya baca tulis di kalangan akademisi.

Bagi saya, sampai kapan pun, wacana soal yang satu ini tetap menarik. Tulisan ini sendiri lahir dari proses ‘mengikat makna’ dari 2 tulisan Prof. Alwasilah yang sangat memengaruhi cara berpikir saya tentang dunia tulis-menulis.

Semuanya menjadi semakin menarik ketika saya mendapatkan kiriman email dari seorang kolega, dosen di salah satu universitas di Aceh Utara, beberapa hari lalu. Isi surat tertanggal 27 Januari 2012 yang ditandatangani Direktur Jenderal Dirjen Dikti Kemdikbud itu mengabarkan informasi yang amat penting perihal publikasi karya ilmiah. Bukan sekedar untuk dibaca, tapi harus ditindaklanjuti para rektor/ketua/direktur PTN/PTS di seluruh Indonesia.

Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah. Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti. Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.

Mari simak secara cermat pernyataan di bagian pembuka surat, “Sebagaimana kita ketahui bahwa pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh”. Oh, itu ternyata hal utama dibalik munculnya surat edaran dari Dirjen Dikti.

Ini bukan perkara biasa. Sayang, tak semua orang menganggap penting hal ini. Akademisi tak terampil berkarya tulis, sungguh sebuah ironi. Harus ada upaya luar biasa yang mesti dilakukan agar budaya baca tulis marak di masyarakat kampus. Produktivitas dalam berkarya tulis idealnya menjadi ciri khas dari kehidupan masyarakat ilmiah di lingkungan kampus.

Dalam konteks kekinian. Kita tidak perlu malu mengakui, kaum intelektual Indonesia belum produktif berkarya tulis. Mau bukti? Di Malaysia, rata-rata per tahun terbit sekitar 6.000 sampai 7.000 judul buku baru. Sementara di Indonesia baru terbit sekitar 4.000 sampai 5.000 judul buku baru.

Ironisnya, hal ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih besar 10 kali lipat dari jumlah penduduk Malaysia. Idealnya, 60.000 judul buku baru setiap tahunnya muncul di pasaran, buah pemikiran dari 61.889 dosen berkualifikasi magister & 12.081 dosen berkualifikasi doktor di PTN & PTS seluruh Indonesia. Dengan perhitungan seperti itu, untuk mengejar Malaysia saja, setiap dosen di Indonesia harus menulis satu buku setiap tahunnya.

Hal lainnya yang menarik, banyak pelamar beasiswa yang mayoritas dosen PT Se-Indonesia tidak mampu menulis proposal penelitian atau rencana studi mereka. Banyak juga di antara mereka yang tidak diterima di PT di Amerika Serikat karena ketidakmampuan menuliskan tujuan studi secara cermat. Hal ini terungkap dari hasil wawancara Prof. A. Chaidar Alwasilah dengan Direktur IIEF.

Bagaimana dengan produktivitas menulis para mahasiswa di Indonesia? Hampir bernasib sama dengan para dosennya, memprihatinkan. Prof. Alwasilah dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 16 responden etnografis (mahasiswa S1, S2, S3) di kampus Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, mayoritas responden menilai bahwa pendidikan nasional Indonesia tidak membekali (maha)siswa dengan kemampuan menulis paper (75%), tidak mengajari kemampuan berpikir kritis (68%), & menulis paper merupakan tugas akademik yang paling sulit (75%).

Perhatikan pula hasil survei terhadap 111 mahasiswa semester 1 sebuah PTS di Bandung. Hasil survei membuktikan bahwa potret pengajaran bahasa Indonesia lebih didominasi pengajaran teori berbahasa ketimbang penguasaan keterampilan berbahasa. Hanya 9,6% guru yang mengajarkan praktik menulis. Selebihnya, 20,4% guru mengajarkan teori tentang menulis, 24,7% mengajarkan tata bahasa, serta 76% mengajarkan ejaan, pembentukan kata, dan kosa kata. Sulit untuk membantah sindiran orang yang suka bilang, “Ah, kebanyakan teori”.

Cara berpikir yang paling sesat & berbahaya adalah menganggap pelajaran bahasa Indonesia sudah lebih dari cukup untuk mengakomodasi kebutuhan akan keterampilan menulis. Mengganti nama mata kuliah bahasa Indonesia menjadi menulis akademik di kampus adalah ide brilian yang digagas Prof. Alwasilah. Harapannya, dosen & mahasiswa dapat memahami esensi dari mata kuliah menulis akademik. Konsekuensinya, dosen yang mengajar mata kuliah ini harus benar-benar ahli di bidang spesialisasinya.

Yang paling penting, bisa memberikan inspirasi & keteladanan karena produktivitasnya dalam berkarya tulis, bukan hanya sekadar ahli teori bahasa yang tak pernah mempublikasikan tulisannya. Hingga hari ini, saya masih ingat apa yang pernah dikatakan beliau sewaktu berjumpa di satu kesempatan seminar, “Belajarlah menulis dari para penulis, jangan pada ahli bahasa saja”.

Dalam konteks pengembangan budaya menulis di kampus, maka penulisan skripsi, tesis, & disertasi mutlak harus tetap dipertahankan, bahkan ditingkatkan kualitasnya. Tak hanya sekadar ada produk karya tulisnya yang bertumpuk di gudang perpustakaan. Namun dari segi manfaat, mestinya punya andil besar dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat luas.

Mari cermati hasil penelitian di Fakultas Pendidikan Bahasa & Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia, ikhwal penulisan skripsi. Melalui penulisan skripsi, mahasiswa mengaku semakin memahami teori-teori yang ada (57,14%), meningkatkan kemampuan berpikir kritis (30,91%), dan meningkatkan kemampuan menulis akademik (29,09%).

Jangan pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran, pemahaman ikhwal studi menulis tidak berhubungan dengan pengembangan bidang ilmu yang sedang kita tekuni. Semua ilmu dapat semakin berkembang melalui aktivitas tulis-menulis. Biar para akademisi kita tak malu mengaku sebagai orang terdidik —meski tak ada jaminan orang lulus sekolah atau lulus kuliah jadi semakin terdidik--, maka secara mutlak mereka harus memiliki kemampuan menulis. Jangan pernah mengaku seorang yang literat atau terdidik jika tak punya kemampuan membaca & menulis (Webster’s New Collegiate Dictionary). Karena orang yang terampil membaca & menulis, merekalah orang terdidik yang sesungguhnya.

Asep Sapa'at

Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement