Minggu, 26 Zulqaidah 1435 / 21 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Integritas

Rabu, 18 Januari 2012, 10:51 WIB
Komentar : 0
Ilustrasi
Ilustrasi

Ujian hidup jauh lebih rumit daripada ujian sekolah. Ujian sekolah, sesulit apa pun ada kunci jawabannya. Namun tak demikian dengan ujian hidup. Jangan mimpi bisa dapat bocoran untuk persoalan ujian hidup. Temukan sendiri jawabannya.

Ada ujian negara (1971 – 1972), ada ujian sekolah (1972 – 1992), juga ada Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS, 1992 – 2002), lalu kita mengenal ujian nasional (UN). Saya yakin ada banyak kisah menarik di balik setiap penyelenggaraan ujian tersebut. Saya masih terkenang, bahkan masih sulit melupakan apa yang pernah dialami ketika mengikuti EBTANAS.

Siapa bilang jadi juara kelas itu menyenangkan? Saya sangat ‘tersiksa’ menjadi juara kelas justru pada momen EBTANAS. Reputasi dipertaruhkan. Mampukah sang jawara kelas lulus EBTANAS? Mungkinkah sang jawara bisa meraih nilai EBTANAS tertinggi? Di atas kertas, semua itu mestinya bisa diraih. Beberapa kali try out, hasilnya sangat memuaskan. Lihat pengumuman hasil try out, nama saya selalu di posisi puncak. Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA), satu tahapan sebelum EBTANAS, pun dilalui dengan mulus. Nilai tertinggi & posisi puncak masih dalam genggaman.

Cerita dimulai beberapa hari jelang EBTANAS SD dilaksanakan, tak ada angin tak ada hujan. Ada yang tidak biasa terjadi di hari itu. Saya dipanggil kepala sekolah (kepsek) ke ruangannya. Pengalaman eksklusif seumur hidup saya menjadi siswa di sekolah itu. Banyak pertanyaan bergelayut di pikiran, “Ada apa dengan saya?”

“Andakah yang bernama Asep Sapa’at?” Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut kepsek sesaat setelah beliau menjawab salam dari saya ketika saya masuk ke ruangannya. “Betul,” jawab saya singkat. Kepsek melanjutkan pembicaraannya, “Begini Sep, Anda termasuk juara kelas & berhasil mendapat nilai EBTA yang paling tinggi. Selamat. Saya berharap pada saat EBTANAS nanti, tolong teman-teman kamu dibantu.”

Seketika dunia seperti berhenti bergerak. Saya masih mencoba memahami maksud tersirat dari pernyataan kepsek itu. Beberapa menit saya berada di ruangan orang nomor wahid di sekolah. Hanya pesan itu yang masih terekam jelas dalam ingatan. Kata-kata lainnya, saya sudah tidak bisa mengingatnya lagi.

Tak perlu waktu lama untuk memahami keinginan kepsek. Wah, ini ujian terberat dalam hidup saya di momen maha penting, EBTANAS. Semua kawan-kawan saya tahu, saya orang paling pelit dimintai jawaban ketika ujian. Ulangan harian, ulangan catur wulan, tak ada cerita saya akan menghibahkan jawaban kepada kawan-kawan. Tak ada kompromi, titik. Andai mereka tahu percakapan saya dengan kepsek, pasti mereka bersorak-sorai. Ternyata, inilah sisi lain kehidupan seorang juara kelas, nikmat membawa sengsara.  

W. Clement Stone berujar, “Berani berkata tidak. Berani menghadapi kebenaran. Kerjakan sesuatu yang benar karena itu benar. Ini adalah kunci untuk hidup dengan integritas”. Ujian hidup itu benar-benar datang, EBTANAS di depan mata. Percakapan terakhir dengan kepsek terus membuntuti pikiran.

Integritas, kata yang baru bisa saya pahami maknanya saat ini. Dulu, saya hanya punya prinsip, tak usah pedulikan omongan kepsek. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Integritas, tetaplah lakukan yang benar. Itu yang bisa saya pahami sebagai anak kelas 6 SD. Usia yang teramat muda untuk memahami makna ‘integritas’.

Hari pertama EBTANAS pun datang. Hati berdegup kencang tak karuan. Mestikah saya ikuti pesan kepsek? Andai dulu saya tahu bohong itu boleh untuk situasi seperti ini, saya pasti akan bilang, ‘bohong itu hukumnya wajib’.

Secepat kilat lembar soal & jawaban sudah berpindah tangan dari pengawas kepada seluruh peserta EBTANAS. Priiit, pengawas memberi tanda soal EBTANAS sudah bisa mulai dikerjakan. Baru lima menit waktu berlangsung, suasana mulai tak karuan. Beberapa teman di belakangku meminta beberapa jawaban untuk soal-soal tertentu. Teman di samping tak kalah agresifnya, dia lempar kertas yang sudah digulung-gulung, di sana tertulis, “Minta jawaban no. 1 – 5, 8 – 12, 21 – 25,..”. Wualah, bilang aja minta jawabannya semua.

Saya tetap tak bergeming, mencoba bertahan untuk tak memberi jawaban. “Tenang, nanti aja pas mau selesai waktunya, saya berikan jawabannya,” sembari berbisik kepada sang peminta jawaban. Jawaban diplomatis seperti itu yang bisa kuberikan. “Waduh, kok jadi kacau begini. Mungkinkah kepsek sudah memberi kode pada teman-teman untuk meminta jawaban dari saya tanpa sungkan?” Jika benar kepsek mengatur skenario ini, tindakan ilegal telah dilegalisasi. Pengawas EBTANAS, harapan saya terakhir untuk tetap bersikap benar.

Harapan tinggal harapan, pengawas tak terlalu bisa diharapkan. Pengawas yang satu menegur, pengawas lainnya membiarkan. Tidak kompak, itu tema utamanya. Teman-teman terlalu diberi keleluasaan mengakses jawaban dari saya. Saya masih & akan terus bertahan menjaga prinsip. Saya pura-pura tidak mendengar jika ada yang memanggil, pura-pura lupa memberi jawaban sesuai permintaan teman. Sikap terakhir, memberi 2 kemungkinan jawaban, biar mereka tetap saya suruh berpikir. Lelah, kata ini yang paling bisa mewakili perasaan saya di saat itu. Bayangkan, hari-hari berikutnya, nyaris seperti itu. EBTANAS, ujian mempertahankan prinsip hidup.

Konsentrasi buyar, suasana hati berantakan, sulit sekali bisa fokus mengerjakan soal ujian. Berharap EBTANAS segera berakhir. Tak ada kenikmatan lagi saat menyantap satu persatu soal ujian. EBTANAS selesai, plong rasanya.

Hari pengumuman hasil EBTANAS pun tiba, namaku tak tercantum di urutan teratas. Nilai EBTANAS anjlok dibanding hasil EBTA. Sakit sekali rasanya. Masuk 3 besar dari kelas 1 sampai 3, juara kelas dari kelas 4 – 6 SD tak mampu kusempurnakan dengan raihan hasil EBTANAS yang memuaskan. Kisah memilukan di akhir perjalanan sebagai murid SD. Semangat hidup sempat terpuruk.

Namun, itu tak berlangsung lama. Hari-hari baru mulai dijalani. Cita-cita baru dirangkai kembali. Masih ada hal penting nan berharga yang masih bisa diselamatkan, integritas.

EBTANAS, ujian hidupku yang sesungguhnya dalam mempertahankan integritas diri. Pelajaran hidup dalam memaknai kata integritas. Jika Anda diberi soal ujian, apa yang dimaksud integritas? Tolong, jangan pernah bertanya pada siapa pun. Tanyalah pada diri Anda sendiri, apakah Anda sudah belajar?  



Asep Sapa'at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa




Redaktur : Johar Arif
Malu adalah bagian dari iman.(HR. Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...