Selasa , 14 November 2017, 18:28 WIB

UGM Sukses Uji Terbang Rudal Pasopati

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Hazliansyah
Republika/Musiron
Kampus Universitas Gadjah Mada
Kampus Universitas Gadjah Mada

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNG KIDUL -- Tim Peluru Kendali (Rudal) grup riset Aeronautika Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses melakukan uji terbang rudal penelitian generasi pertama mereka. Uji terbang dilakukan di Lapangan Udara Gading, Wonosari, DI Yogyakarta, bekerja sama dengan Lanud Adisutjipto sebagai pengelola Lapangan Udara Gading, Ahad (12/11) lalu.

Ketua Penelitian Dr Gaesang Nugroho mengatakan, penelitian didanai Kemenristekdikti melalui skema Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi, dengan tahun pertama difokuskan ke desain dan manufaktur berjarak tempuh 30-50 kilometer. Rudal yang dinamakan Pasopati ini direncanakan akan tuntas dalam waktu tiga tahun.

"Rudal elektrik tahun pertama ini didesain untuk dapat melakukan misi penyerangan target atau sasaran diam dengan terbang rendah, agar tidak terdeteksi radar," kata Gesang.

Ia menerangkan, rudal ini memiliki penggerak elektrik yaitu Electric Ducted Fan (EDF), berkecepatan 100-200 kilometer per jam, dan mampu membawa payload dua kilogram. Desain ini sudah menyelesaikan tahap Design Requirement and Objective (DRO), Conseptual Design, Preliminary Desing dan Detail.

"Pasopati merupakan nama senjata Arjuna dalam tokoh pewayangan, serupa anak panah yang mampu melesat dengan kecepatan, akurasi dan kemampuan luar biasa, dari panas Pasopati itulah tim rudal UGM terinspirasi," ujar Gesang.

Rudal Pasopati generasi pertama ini memiliki panjang 170 centimeter, diameter 15 centimeter, berat kosong 0,9 kilo. Penggunaan EDF lantaran memiliki karakteristik yang mirip dengan turbojet, namun lebih mudah dikendalikan, dan bisa mendapat data kendali untuk perkembangan selanjutnya.

Sementara Agung Bramantya yang memimpin uji terbang rudal Pasopati mengatakan, bersama dua orang rekannya, Iswandi dan Isnan Nur Rifai, uji terbang berhasil dilakukan dan rudal terbang dengan stabil.

Pasopati mampu menyelesaikan misi jelajah autonomus dengan tinggi 100 meter, kecepatan maksimum 130 km/jam dan jarak lima kilometer untuk waktu terbang tiga menit. Saat uji terbang, Agung bersama empat mahasiswa bimbingannya yaitu Ivan, Ghani, Yosua dan Andika.

"Rencana ke depan akan menambah jarak tempuh dengan memakai pendorong turbojet, menguji kecepatan maksimum, menambah akurasi dan membuat sistem produksi yang lebih efisien," kata Agung.