Rabu , 08 November 2017, 00:17 WIB

Mahasiswa UII Belajar Nano dan Sel Solar ke Jepang

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih
Nanoteknologi (ilustrasi)
Nanoteknologi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sebanyak 10 mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) mempelajari teknologi nano dan sel solar langsung ke Jepang. Mereka berangkat melalui hibah yang diperolah dari Japan Science and Technology (JST).

Sepuluh mahasiswa itu berkesempatan terlibat dalam Sakura Science Program yang berlangsung di Tokyo University of Science pada 7-14 November 2017. Kunjungan itu jadi hasil kerjasama kampus-kampus Jepang dan Pusat Studi Lingkungan (PSL) UII.

Mereka di antaranya Dio Prananda, Desy Budiarti, Baiq Raudatul Jannah, Arga Nayesha Amalia, Meutia Fakhirah, Fauzi Farid, Luthfia Rakhma, Siti Sevina, Dwita Subhi dan Cahyo Widodo. Mereka didampingi Kepala PSL UII Eko Siswoyo.

Eko menjelaskan, selama berada di Jepang kegiatan mahasiswa akan banyak berkutat kepada praktik dan kunjungan ke beberapa laboratorium di Tokyo University of Science. Mereka dibimbing Prof Kazuo Umemura.

"Kita juga akan berkunjunga ke beberapa industri dan pusat riset yang fokusnya neno teknologi dan solar cell, keduanya merupakan bagian dari masa depan teknologi hijau," kata Eko di Rektorat Kampus Terpadu UII, Selasa (7/11).

Senada, Dekan FTSP UII, Widodo Brontowiyono menilai, langkah ini sekaligus pula menegaskan komitmen untuk meningkatkan internasionalisasi FTSP. Menurut Widodo, salah satunya didorong melalui kerjasama intens dengan kampus-kampus Jepang.

"Di samping Tokyo University Science, kita telah erat berhubungan dengan kampus-kampus lain seperti Gifu University dan Hokkaido University," ujar Widodo.

Dalam sambutan pelepasan 10 mahasiswa, Rektor UII Nandang Sutrisno berpesan, agar mereka dapat mengambil pelajaran sebaik-baiknya dari kunjungan ini. Ia merasa, salah satu bagian terpenting yaitu mengamati langsung etos belajar mahasiswanya.

"Sebab, di sana mahasiswa bisa betah berlama-lama di kampus untuk belajar di perpustakaan, mereka baru pulang setelah malam, jadi waktunya memang habis untuk belajar," kata Nandang.

Untuk itu, ia meminta 10 mahasiswa yang berangkat mulai hari ini ke Jepang bisa mengambil sisi-sisi positif dari semua yang akan ditemuinya nanti. Harapannya, sisi-sisi positif itu dapat diterpkan ketika pulang ke Tanah Air.