Sabtu , 04 November 2017, 08:36 WIB

Mahasiswa IPB Ini Tebar Karya Melalui Tulisan Ilmiah

Red: Irwan Kelana
Dok IPB
Bagas Aji Prabowo, Duta Institut IPB.
Bagas Aji Prabowo, Duta Institut IPB.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Menjadi Duta Institut sebagai contoh dan perwakilan dari  Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mempromosikan IPB ke berbagai sekolah maupun instansi tentu bukanlah hal yang gampang. Untuk menjadi Duta Institut biasanya dipilih mahasiswa yang berprestasi dan berperilaku baik.

Bagas Aji Prabowo, Duta Institut dari Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, IPB mengatakan, menjadi Duta Institut dituntut untuk bisa menjelaskan tentang IPB ke berbagai stakeholder dan para calon mahasiswa IPB. “Kita menjelaskan juga tentang berita-berita populer terkait IPB sebagai duta dan memberikan contoh perilaku dan sebagainya,” kata Bagas dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Jumat (3/11).

Pria asal Banyumas ini menceritakan pengalaman dan hobinya yang suka membuat karya tulis ilmiah. “Saat SMA belum ada basic sama sekali. Di IPB Alhamdulillah saya belajar banyak terutama saat saya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Forcess sebagai Ketua Divisi Human Resource Development (HRD) yaitu organisasi yang bergerak dalam bidang tulisan keilmiahan. Sejak itu saya mulai ikut lomba-lomba nasional dan internasional. Insya Allah tanggal 23 November ini, saya akan ikut lomba paper di Taiwan yang diadakan oleh Pingtung University,” jelas Bagas.

Dalam lombanya tersebut ia mengangkat tema hutan rakyat. Ia mencoba untuk memberikan sentuhan modern pada industri hutan rakyat. “Saya buat mobile application, petani hutan rakyat dapat mengakses bibit dengan mudah, kemudian bakal ada semacam konsultasi dalam pemeliharaan hutan, juga ada panduan-panduan dan kolom konsultasi dengan ahlinya, dan terakhir adalah proses pemanenan. Kalau sekarang trennya itu panen tebang butuh tapi kalau saya ingin potensinya bisa dioptimalkan dan penjualannya juga langsung terhubung dengan pasar. Jadi pasar bisa langsung masuk dan mengakses kebutuhan  kayu dan pihak petani bisa langsung bertemu,” ungkap Bagas.

Dalam perjuangannya ia sudah beberapa kali meraih prestasi dalam bidang karya tulis ilmiah. Di Riau ia pernah mendapat juara kedua. Idenya tentang absorban agar buah menjadi lebih tahan lama. Kemudian di Bali Bagas kembali meraih juara pertama dengan ide tentang pengelolaan bisnis gula aren. Di UGM tahun lalu juga meraih juara pertama  dengan ide tentang pengelolaan air resirkulasi pada cucian mobil sehingga limbahnya diolah dan airnya dapat digunakan kembali.  “Di Unair tahun lalu saya juga dapat juara tentang kandang kucing yang memiliki penghangat, dan terakhir saya ikut lomba ide bisnis di Singapura,” tuturnya.

Pria yang bermimpi  melanjutkan S2 di luar negeri ini menyampaikan pesannya, agar tetap berusaha dalam meraih mimpi dan terus belajar. “Insya Allah saya ingin lanjut S2. Kalau tidak di Gottingen,  pilihannya di Hokkaido. Bila kita ada kemauan,  meskipun dari nol mulai saja belajar. Sebab,  kita tidak bisa buat sesuatu langsung berhasil,” ujarnya.

Ia menyebutkan,  karya tulisnya juga tidak semulus itu. “Awalnya juga saya coba apply tapi gagal dan dari situ saya belajar. Saya mengajak para mahasiswa mengejar mimpinya dimulai dari nol dan terus mencoba. Saya bersyukur dukungan dari IPB sejauh ini sangat baik. Lomba ke manapun didukung penuh baik IPB, fakultas maupun departemen. Jadi jangan takut karena pasti dapat dukungan,” urainya.