Jumat , 13 Oktober 2017, 11:39 WIB

Perjuangan Aini Menjadi Doktor Muda IPB di Usia 26 Tahun

Red: Irwan Kelana
Dok IPB
Dr Nur Aini Iswati Hasanah ST, MSI.
Dr Nur Aini Iswati Hasanah ST, MSI.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Dr  Nur Aini Iswati Hasanah  ST,  MSi , resmi menyelesaikan sidang doktornya pada tanggal 30 Agustus 2017. Dr  Aini meraih dua gelar sekaligus hanya dalam kurun waktu empat tahun yakni gelar Magister Teknik Sipil dan Lingkungan dan gelar Doktor Ilmu Keteknikan Pertanian melalui program fast track Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Gelar doktor itu ia sandang saat usianya baru 26 tahun.

Semangatnya dalam menempuh pendidikan tertanam pada sebuah prinsip bahwa ilmu itu tidak pernah habis.  Dunia penelitian merupakan hal yang sangat akrab dalam kehidupan Dr Aini. Tidak heran jika berbagai karyanya telah terpublikasi, baik skala nasional maupun internasional.

"Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan studi tepat waktu dengan dua publikasi di jurnal nasional yang terakreditasi dan dua publikasi di jurnal internasional yang  terindeks Scopus.  Selain itu,  bagian dari disertasi saya juga terpilih dalam 107 Inovasi Indonesia," ungkap Dr Aini, salah satu penggagas sawah portabel otomatis untuk pertanian Indonesia, dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Kamis (12/10).

Aini mengaku menghadapi berbagai tantangan dalam menempuh pendidikan S3. Mulai dari menyelesaikan penelitian tesis dan kuliah S3 hingga menerima tantangan dari profesor. “Profesor saya selalu men-challenge saya, mulai dari joint di Inovasi Indonesia,  mengirim saya ke universitas di United States dan perguruan tinggi terbaik di Jepang, menulis disertasi berbahasa Inggris,  hingga challenge on the spot pada saat sidang tertutup untuk presentasi dalam bahasa Inggris,” terang doktor bimbingan Prof  Budi Indra Setiawan tersebut.

Sebagai mahasiswa termuda di kelas,  Aini sangat bersyukur karena teman-teman yang ada di kelas umumnya terbuka dengan orang yang lebih muda seperti dirinya.   Aini mengaku bahwa meskipun terpaut umur yang jauh, rekan-rekan kuliahnya di program S3  tetap perhatian dan selalu menyemangatinya.

Ketertarikannya pada dunia sains dan teknologi membuat Aini sering mengorbankan waktu tidurnya. “Saya tidur tidak teratur karena sering begadang. Biasanya saya bisa begadang hingga dua hari lalu beristirahat selama satu hari,” ungkap Aini.
 
Aini menghabiskan waktu begadangnya untuk belajar tentang engineering dengan menggunakan buku yang full bahasa Inggris. Baginya, buku bahasa Inggris mudah untuk dipahami sekaligus untuk belajar bahasa.

Tidak heran jika pada tahun pertama,  Aini dapat menyelesaikan tesis S2-nya bersamaan dengan kuliah S3.  Bahkan, Aini sempat mendapat penghargaan Wisudawan Terbaik pada Juli tahun lalu dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00 dengan masa studi 23 bulan. Tepat pada usia 26 tahun, gelar doktor berhasil disandangnya.

Berita Terkait