Ahad , 15 October 2017, 07:39 WIB

Airbus dan Boeing Pakai Produk Sertifikat Palsu Kobe Steel

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Logo Airbus.
Logo Airbus.

REPUBLIKA.CO.ID,TOKYO -- Produsen besi terbesar ketiga di Jepang, Kobe Steel merilis data perusahaan yang terkena dampak dari pemalsuan sertifikat standar kualitas produk aluminium miliknya. Dari laporan tersebut tercatat 500 perusahaan terdampak atas skandal yang dilakukan oleh Kobe Steel.

Lebih dari 30 perusahaan di luar Jepang termasuk Daimler dan Airbus terkena dampak pemalsuan sertifikat standar kualitas tersebut. Airbus menyatakan, pihaknya tidak membeli produk dari Kobe Steel secara langsung. Namun, perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat tersebut akan menyelidiki rantai pasoknya.

"Sejauh ini kami belum mengidentifikasi pemasok yang mendapatkan bahan dari Kobe Steel untuk suku cadang yang dipasang di pesawat kami," ujar juru bicara Airbus seperti dilansir BBC News, Ahad (15/10).

Sementara itu, Boeing telah menggunakan produk Kobe Steel yang mencakup sertifikasi palsu dari perusahaan Jepang tersebut. Namun Boeing tidak mengganggap ini sebagai masalah keamanan, tetapi perusahaan tersebut dapat menaikkan biaya kompensasi untuk Kobe Steel.

Berdasarkan investigasi internal, Kobe Steel menemukan 70 kasus gangguan data pada unit Penelitian Kobelco. Saham Kobe Steel telah turun hampir 40 persen dalam dua hari terakhir.

Pengakuan Kobe Steel merupakan kasus terbaru dalam serangkaian kasus pelanggaran lain yang melibatkan pabrikan Jepang. Pekan lalu, Nissan Motors menarik lebih dari satu juta kendaraan produksinya setelah mengakui bahwa staf mereka yang tidak memiliki sertifikasi khusus telah melakukan inspeksi akhir untuk kendaraan yang akan dijual di pasar domestik. Selain itu, pembuat airbag Takata juga mengalami penurunan omzet setelah ditemukan kecacatan di sejumlah produknya yang telah menyebabkan kecelakaan fatal di sejumlah negara.

Direktur Jenderal Biro Industri dan Manufaktur Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Akihiro Tada mengatakan, kasus pemalsuan ini merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi iklim kepercayaan bisnis di industri manufaktur Jepang. Dalam pertemuan tersebut Presiden Kobe Steel Hiroya Kawasaki mengatakan, perusahaannya akan melakukan yang terbaik untuk menyelidiki alasan dibuatnya sertifikasi palsu tersebut dan berupaya untuk melakukan tindakan pencegahan.