Selasa , 02 June 2015, 06:17 WIB

Pengamat: Beras Analog Masih Dalam Kajian

Rep: c32/ Red: Satya Festiani
Mardiah
KAPOLRI Tidak Ada Beras Plastik (ilustrasi)
KAPOLRI Tidak Ada Beras Plastik (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semenjak beredarnya isu beras plastik hingga sekarang sudah dinyatakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dinyatakan negatif, masih belum diketahui jelas motif isu tersebut muncul. Sempat ada dugaan, jika isu terseut sengaja diungkap untuk menghambat perkembangan beras analog.
 
“Yang saya tahu, beras analog masih dalam kajian untuk bisa diproduksi secara masal atau belum,” kata Pengamat ekonomi dari Institut for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati kepada ROL, Senin (1/6).
 
Lebih lanjut ia menjelaskan, terkait dengan hal tersebut maka sepertinya beras analog belum diperjualbelikan secara umum. Namun menurutnya, di beberapa perguruan tinggi, beras tersebut sudah dikemas dalam kemasan tertentu.
 
Selain itu, menurutnya beras analog merupakan beras yang aman dan bisa berfungsi untuk menambah keanekaragaman pangan. “Bentuk beras analog seperti beras tapi bukan berasal dari gabah. Beras tersebut terbuat dari campuran umbi-umbian lalu dibentuk seperti beras” jelas Enny.
 
Terkait dengan komposisi beras analog tersebut, ia menjelaskan beras tersebut sengaja diciptakan untuk mengurangi konsumsi pangan Indonesia yang masih sebagian besar memakan nasi. Menurutnya, dengan adanya keanekaragaman pangan, masyarakat Indonesia tak harus selalu mengonsumsi beras.
 
“Dengan beberapa universitas sudah mengembangkannya, maka diharapkan beras analog bisa menambah keanekaragaman pangan. Namun jika adanya isu beras plastik ini khawatirnya jadi menghambat perkembangan proses beras analog,” ungkap Enny.