Kamis , 28 September 2017, 18:19 WIB

Mahasiswa Untidar Ciptakan Mesin Pengering Padi Elektrik

Red: Yusuf Assidiq
Dokumen
Mesin pengering padi berbasis elektrik otomasi.
Mesin pengering padi berbasis elektrik otomasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Sebagian besar petani dari Kelompok Tani Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan, Kota Magelang, Jawa Tengah, saat pascapanen langsung menjual padi dalam keadaan basah. Kondisi ini menyebabkan penghasilan yang diperoleh tidak maksimal.

Cuaca yang kurang menentu dan tenaga yang terbatas memaksa para petani melepas hasil panen padi dlam keadaan basah dengan kisaran harga Rp 4.000 per kilogram. Kondisi ini menginspirasi Suranto Heri Prasetyo, Agus Musafa, Rizal Martovani Vauzi, dan Miftahul Rhama Yudha, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar) Magelang menciptakan Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (SIPEDI GEOGEMPAR).

Ini merupakan alat pengering padi berdimensi panjang 160 centimeter, lebar 80 cm, dan tinggi 130 cm yang memanfaatkan energi listrik dan kompor sebagai sumber pemanasan. Mesin tersebut juga dilengkapi beberapa komponen yang dapat memberikan berbagai kemudahan pekerjaan.

Antara lain pengendalian suhu pengeringan secara otomatis melalui perangkat thermocontrol, pemerataan pengeringan secara kontinu dan otomatis melalui blower dan sistem mekanik serta drum silinder padi sebagai tempat pengeringan padi dengan kapasitas 100 kg.

“Pengeringan padi dengan alat ini mampu meningkatkan penghasilan para petani. Harga padi kering yang dihasilkan bisa dijual seharga Rp 8.000 per kg, walaupun ada pengurangan berat pada saat proses penggilingan, penghasilan para petani tetap meningkat 35 persen,” kata Heri, dalam siaran pers.

Proses pengeringan metode konvensional memerlukan waktu lima hari untuk 10 ton padi. Sedangkan menggunakan SIPEDI GEOGEMPAR padi 10 ton bisa dikeringkan dalam waktu satu hari. Penggunaan motor listrik dengan daya rendah, ukuran alat yang tidak terlalu besar, adanya gir pemutar dan pengatur suhu menjadi keunggulan alat ini.

Hasil pengeringannya pun memiliki kualitas yang lebih baik. Kadar air terkontrol dengan baik yaitu 14-15 persen dengan warna kulit padi yang lebih cerah. Heri menambahkan, kondisi ini meminimalisir adanya padi yang busuk saat penyimpanan setelah dikeringkan.

SIPEDI GEOGEMPAR merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Untidar yang lolos didanai Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada 2017.

Berita Terkait