Kamis , 20 Juli 2017, 19:10 WIB

Mahasiswa UNY Meneliti Kampung Tujuh

Red: Yusuf Assidiq
Dokumen
Mahasiswa UNY sedang mewawancarai tokoh adat  di Kampung Tujuh.
Mahasiswa UNY sedang mewawancarai tokoh adat di Kampung Tujuh.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki beberapa desa wisata yang mampu memikat daya tarik wisatawan. Baik wisatawan domestik atapun mancanegara. Salah satunya yaitu Desa Wisata Nglanggeran Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul.

Desa wisata ini terdiri dari berbagai destinasi wisata. Antara lain Embung Nglanggeran, Gunung Api Purba, dan Kampung Tujuh. Ada keunikan di salah satu desa di sini yaitu Kampung Tujuh, di mana desa tersebut hanya memiliki tujuh kepala keluarga.

Lokasi Kampung Tujuh ini bernama Tlogo Mardhido yang terletak Dusun Nglanggeran Wetan, Desa Nglanggeran. Kampung ini memiliki kepercayaan yang sangat kuat dalam mempertahankan keberadaan tujuh kepala keluarga yang ada.

Menurut salah satu sesepuh dusun tersebut, Rejo Dimulyo penduduk yang hidup di dusun tersebut sudah ada sejak dahulu kala, mulai dari zaman buyutnya memang yang tinggal harus tujuh kepala keluarga, tidak boleh lebih, ataupun kurang. Rejo Dimulyo merupakan keturunan keempat dan masih mempercayai cerita tersebut.

Fenomena Kampung Tujuh menarik perhatian mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Anisa Eka Pratiwi, Sugeng Triyono, Imam Rezkiyanto, Achmad Sidiq Asad dan Dyah Ayu Khollimah dari Prodi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, meneliti eksistensi kampung ini di sela gempuran arus globalisasi.

Karena dalam era globalisasi ini nilai-nilai, norma, bahkan ideologi baru rentan masuk ke dalam masyarakat ataupun komunitas-komunitas adat. Menurut Anisa Eka Pratiwi, dalam era globalisasi ini banyak berdampak pada perubahan baik dari segi sosial, pemikiran, identitas maupun keyakinan.

“Dampak dari globalisasi ini terkadang menimbulkan konflik antarmasyarakat yang memegang teguh prinsip, norma, dan adat,” kata Anisa.  Menurut dia, dampak paling buruk adalah dengan hilangnya keberadaan kebudayaan asli karena tergerus oleh globalisasi.

Sugeng Triyono juga mengkhawatirkan jika perkembangan yang pesat dalam kehidupan masyarakat Desa Wisata Nglanggeran akan memengaruhi eksistensi masyarakat adat Kampung Tujuh.

“Untuk itu diperlukan upaya khusus baik dari pemerintah maupun warga masyarakat untuk mempertahankan keberadaan masyarakat adat Kampung Tujuh” ujarnya, dalam siaran pers.

Upaya ini diharapkan mampu menjaga tradisi yang telah turun temurun diwariskan. Ia menegaskan, tradisi merupakan bagian dari warisan kebudayaan Indonesia yang sangat beranekaragam.

Dyah Ayu Khillimah menyimpulkan bahwa masyarakat Kampung Tujuh masih menjaga tradisi turun temurun yang ada, namun juga sudah terdampak globalisasi. “Salah satunya adalah terdapatnya wifi di salah satu rumah warga” kata Dyah Ayu.

Selain itu juga, imbuhnya, rerata masyarakat Kampung Tujuh yang dulunya berprofesi sebagai petani sudah ada yang beralih haluan menjadi pemandu wisata.

Berita Terkait