Jumat , 22 September 2017, 12:25 WIB

Mahasiswa ITB Ini Pecahkan Rekor Doktor Termuda Indonesia

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ratna Puspita
itb.ac.id
Logo Institut Teknologi Bandung (ITB)
Logo Institut Teknologi Bandung (ITB)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Grandprix Thomryes Marth Kadja, mahasiswa S3 Kimia ITB, meraih gelar doktor saat sidang tertutup pada 6 September lalu sedangkan sidang terbukanya diselenggarakan pada Jumat (22/9). Granprix yang berusia 24 tahun pun memecahkan rekor MURI sebagai pemegang gelar doktor termuda di Indonesia.

Menurut Kasubdit Humas dan Publikasi ITB Fivien Nur Savitri, pria kelahiran Kupang ini merupakan lulusan S1 Kimia Universitas Indonesia (UI) dan melanjutkan S2 pada program studi yang sama di ITB. "Lulus S1 di umur 19 tahun, ia melanjutkan S2-nya dengan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemenristekdikti," ujar Fivien

Fivien menambahkan selama studi S3, Grandprix menggunakan waktu yang ada untuk melakukan penelitian secara penuh. Sebelum ke bangku kuliah, Grandprix bercerita bahwa dia masuk SD pada umur lima tahun dan lanjut ke kelas akselerasi di SMA sehingga usianya ketika masuk kuliah S1 adalah 16 tahun. Menurut Grandprix, untuk disertasinya ia mengangkat topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5. 

Ia dibimbing Dr Rino Mukti, Dr Veinardi Suendo, Prof Ismunandar, dan Dr I Nyoman Marsih sebagai promotornya. Grandprix menjelaskan, secara garis besar penelitiannya tersebut berfokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa.

"Capaian luar biasa Grandprix ini tak lepas dari kerja keras dan keinginan yang kuat dalam meraih mimpi," ujar pria yang telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah berskala nasional dan internasional ini.

Grandprix mengakui, selama masa penelitian memang tidak selalu berjalan mulus. Prosesnya yang sulit dan memakan waktu menjadi kendala saat ia membuat penelitian. Kendala lainnya yakni ada instrumen analisis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak sesuai ekspektasi. “Itu, kendalanya,” katanya.

Namun, dia mengatakan, kecintaannya pada bidang yang ditekuninya ini membuatnya tetap menjalani segala sesuatu, baik suka maupun duka, dengan senang hati. Ada kepuasan tersendiri, terutama ketika hipotesisnya berhasil dibuktikan.

Terkait prestasinya, Grandprix berharap akademisi Indonesia dapat ikut terdorong untuk memajukan dunia penelitian yang dimotori oleh orang-orang muda Indonesia. “Jangan minder karena masih muda. Justru (yang muda) yang harus menjadi contoh bagi orang lain,” katanya.

Selain itu, Grandprix pun ingin agar program beasiswa seperti PMDSU dapat diteruskan eksistensinya dan diperbesar skalanya untuk menjaring peneliti dan doktor Indonesia dengan kemampuan dan daya saing kualitas internasional.