Selasa , 22 August 2017, 12:49 WIB

Peneliti IPB Temukan Bakteri Penurun Kolesterol

Red: Irwan Kelana
Dok IPB
IPB menemukan bakteri penurun kolesterol.
IPB menemukan bakteri penurun kolesterol.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan pada tahun 2030 penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit kardiovaskular, diantaranya adalah peningkatan kadar kolesterol khususnya LDL (Low Density Lipoprotein) yang biasa disebut sebagai hiperkolesterolemia.

Hiperkolesterolemia terjadi jika kadar kolesterol melebihi batas normal. Penyebabnya yaitu konsumsi makanan yang mengandung kadar kolesterol yang tinggi. Kadar kolesterol LDL menjadi berlebih sedangkan kolesterol baik HDL (High Density Lipoprotein) cukup sedikit sehingga tidak mampu melawannya.

Usaha yang dilakukan penderita hiperkolesterolemia untuk menurunkan kolesterol tubuh yaitu menggunakan obat-obatan, tetapi menimbulkan efek samping terhadap penderitanya. Penggunaan probiotik jenis strain tertentu belakangan ini dikembangkan untuk membantu menurunkan  kolesterol tubuh. Probiotik merupakan suatu mikroorganisme atau bakteri yang mempunyai kemampuan karena memiliki manfaat bagi manusia, misalnya mampu menurunkan kolesterol.

Terkait hal ini, sejumlah pakar dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian potensi aktivitas hipokolesterol asam laktat yang diisolasi dari dangke dan daging sapi. Mereka adalah Hasniar Burhan, Irma Isnafia Arief dan Epi Taufik.

Salah satu peneliti, Irma mengatakan, asam empedu disintesis di dalam hati dari kolesterol dan disekresi sebagai glisin maupun taurin ke dalam usus dua belas jari. Keduanya berperan dalam memfasilitasi penyerapan lemak dan mengikuti sirkulasi enterohepatik. Selama disirkulasi dalam saluran pencernaan, garam empedu dapat mengalami modifikasi oleh mikrobiota usus.

Ia menuturkan, sifat alami bakteri asam laktat (BAL) bermanfaat dalam proses fermentasi dan kesehatan, serta aman untuk dikonsumsi oleh manusia. “Beberapa BAL memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar kolesterol,” kata Irma dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (22/8).

Ia menambahkan, kemampuan dan sifat yang dimiliki oleh masing-masing strain bervariasi. “Perlu dilakukan seleksi keberadaan gen Bile Salt Hydrolase (BSH) atau hidrolisis garam empedu pada isolat asal dangke yang merupakan sejenis keju lunak yang berasal dari Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan, dan daging sapi yang berasal dari pasar tradisional Bogor, Jawa Barat,” ujarnya.

Lebih lanjut, para peneliti dari IPB ini telah berhasil menemukan delapan strain bakteri asam laktat yang diisolasi dari dangke dan daging sapi yang berpotensi menurunkan kolesterol yaitu L. fermentum B111 dan L. plantarum IIA-1A5. “Strain bakteri ini telah dibuktikan dan diuji secara laboratorium dan tenyata memiliki potensi untuk menurunkan kolesterol,” katanya.