Senin , 31 Juli 2017, 13:56 WIB

Pengembangan Florikultura Butuh Dukungan Riset Swasta

Red: Irwan Kelana
Dok IPB
Rektor IPB Herry Suhardiyanto membuka  Seminar Florikultura Indonesia 2017 di Bogor, Jumat (28/7).
Rektor IPB Herry Suhardiyanto membuka Seminar Florikultura Indonesia 2017 di Bogor, Jumat (28/7).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Seorang peneliti anggrek mengatakan pentingnya kontribusi antara pengusaha dan  peneliti dalam pengembangan riset. Tidak bisa mengandalkan dana penelitian dari pemerintah karena dananya sangat terbatas.

“Jika hanya mengandalkan pemerintah maka dapat dipastikan akan sangat lambat. Harapannya para  pengusaha yang memiliki kapasitas yang cukup dapat mengalokasikan dana riset untuk pengembangan produknya. Di luar negeri pemuliaan tanaman sudah dilakukan swasta,” kata Peneliti Bunga Anggrek Bulan dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr  Dewi Sukma di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/7).

Penanggung jawab Seminar Florikultura Indonesia 2017 mencontohkan negara Taiwan dan  Thailand. Di Thailand  pengembangan florikultura di sana membutuhkan lahan seluas minimal 70 hektar. Luas lahan ini sudah mencakup berbagai aktivitas produksi mulai dari kegiatan pemuliaan tanaman dilakukan, memperbanyak, menyilang, memproduksi bunga dan melakukan penelitian sendiri.

“Selama tidak melakukan pemuliaan sendiri, kita akan tergantung bibit impor terus. Dalam jangka panjang keberlanjutannya bisa terganggu karena bibit impor,” kata Dewi dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Senin (31/7).

Padahal, kata Dewi,  Indonesia memiliki berbagai jenis anggrek yang luar biasa. “Namun belum diproduksi secara masal sehingga masih dibatasi perdagangannya,” ujarnya.

Menurut Dewi, bidang florikultura adalah bidang yang memiliki prospek cerah. “Khusus untuk jenis komoditas bunga hias, anggrek bulan memiliki pangsa pasar dan nilai ekonomi tinggi. Satu pot anggrek bulan bisa mencapai Rp 80 ribu bahkan lebih,” tuturnya.

Rektor  Institut Pertanian  Bogor (IPB)  Prof Dr  Ir   Herry Suhardiyanto dalam sambutannya menyampaikan,  florikultura Indonesia perlu digarap dan diperjuangkan, mengingat potensi di Indonesia luar biasa besar. Contohnya,  anggrek dan sellosia. Namun potensi tersebut belum terkelola dengan baik.

“Penting dilakukan pengawalan dari hulu sampai ke hilir. Terkait dana penelitian bidang florikultura yang minim, Rektor IPB mengimbau semua pihak agar memberikan perhatian khusus supaya penelitian pemuliaan tanaman dapat ditingkatkan,” kata Rektor IPB.

Ketua Panitia Florikultura Indonesia 2017 Dr  Ir  Syarifah Iis Aisyah mengemukakan,  acara Florikultura Indonesia 2017 merupakan rangkaian kegiatan  yang terdiri dari seminar nasional, expo produk dan karnaval yang digelar selama empat hari.

Kegiatan ini diawali dengan pencanangan hari Florikultura Indonesia pada tanggal 24 Juli 2017 di Jakarta oleh Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia (Kemenko RI). “Kegiatan ini diharapkan merangsang antusiasme masyarakat sehingga sadar bahwa tanaman hias merupakan aset yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu pasar florikultura kian terbuka lebar,” kata  Iis.

Ia menambahkan,  saat ini pemerintah lebih fokus pengembangan tanaman pangan. Sedangkan upaya meningkatkan bidang florikultura masing sangat minim. Kegiatan ini merupakan event tepat untuk memberikan perhatian terhadap kebangkitan florikultura Indonesia.

“Sejarah membuktikan florikultura sangat potensial untuk ditingkatkan. Varietas tanaman di Indonesia bukan main besarnya, sementara produk penelitiannya masih minim, karena dana penelitiannya minim. Hal ini menyebabkan balai-balai penelitian kesulitan melakukan penelitian mendetail,” ungkapnya.
 
Untuk memecahkan persoalan florikultura Indonesia, digelar seminar yang memasilitasi hal tersebut. Dalam  kesempatan itu, duduk bersama Academician, Business, Government, Community (ABGC) untuk berdiskusi apa yang diinginkan para pelaku bisnis tanaman hias, ke depan akan melakukan apa, sehingga hasil dari seminar  berupa outline blueprint florikultura Indonesia hingga 2045.

Acara ini juga mengundang 22 pemerintah daerah kota dan kabupaten yang sudah memiliki unggulan bisnis tanaman hias. Tahun ini merupakan tahap konsolidasi stakeholder untuk duduk bersama, menciptakan pengembangan produk florikultura ke depan.

Hadir sebagai narasumber seminar di antaranya: Dekan Fakultas Pertanian IPB  Dr  Agus Purwito  MSc.Agr, Kepala Pusat Litbang Hortikultura Dr  Ir  Hardoyanto MSc, Direktorat Buah dan Flori Dr Sarwo Edhi, Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan  Fajarini Puntodewi SH, MSi, Ketua Asbindo  Ir Glen PardedeMM, MBA, Perhimpunan Anggrek Indonesia, Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia dan PT  Monfori.