Kamis , 13 July 2017, 17:25 WIB

Ini Cara Perguruan Tinggi Islam di Asia Melawan Terorisme

Rep: Binti Sholikah/ Red: Ratna Puspita
Republika/Binti Sholikah
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra menjadi pembicara dalam acara The 5th Meeting of Asian Islamic Universities Association (AIUA) di UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (13/7). Konferensi tersebut salah satunya membahas mengenai upaya menyelesaikan masalah radikalisme.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra menjadi pembicara dalam acara The 5th Meeting of Asian Islamic Universities Association (AIUA) di UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (13/7). Konferensi tersebut salah satunya membahas mengenai upaya menyelesaikan masalah radikalisme.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- UIN Sunan Ampel Surabaya beserta 73 perguruan tinggi Islam di Asia membahas mengenai upaya perlawanan terhadap kekerasan dan terorisme dalam The 5th Meeting of Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung mulai Rabu (12/7) kemarin hingga Jumat (14/7) besok. Acara puncak pertemuan tersebut, yaitu International Conference on The Role of Islamic Universities Against Violence and Terrorism, digelar di Gedung Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (13/7).

Dua hari sebelumnya diadakan workshop di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dihadiri delegasi dari seluruh anggota dan calon anggota AIUA yang berjumlah kurang lebih 74 Perguruan Tinggi Islam di Asia, serta tamu undangan dari Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam seluruh Indonesia.

Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Abd Ala menyatakan  The 5th Meeting of AIUA sangat penting dalam membangun kebersamaan di tingkat Asia untuk meningkatkan kualitas Universitas Islam menuju World Class University (WCU). Selain itu, Konferensi Internasional dan Pertemuan Kelima AIUA tersebut bertujuan menyatukan gagasan untuk menyelesaikan isu-isu regional seputar kajian Islam, termasuk isu kekerasan dalam agama dan terorisme.

Kegiatan ini juga merupakan aliansi ide, gagasan, dan gerakan bagi anggota AIUA untuk melakukan pernyataan sikap secara internasional. "Seminar internasional dengan tema kekerasan dan terorisme sangat menarik, manakala kita sebagai Universitas Islam Se-Asia memiliki kesamaan pandangan dan strategi untuk melawan terorisme dan kekerasan yang kian menguat," kata Abd Ala, Kamis.

Panitia pelaksana konferensi internasional UINSA Surabaya, M Helmi Umam, menyampaikan, isu kekerasan dan terorisme yang mulai menyibukkan perpolitikan global menjadi menarik untuk dikaji. Hal itu mengingat sebagian kekerasan dan terorisme dianggap terhubung dengan motivasi keagamaan.

Menurut Helmi, stigma dunia bahwa Islam adalah agama kekerasan perlu direspon balik. Penjelasan dan kampanye Islam agama damai menjadi tanggung jawab umat Islam. "Dalam kaitan inilah, Pendidikan Tinggi Islam dinilai sebagai lembaga paling potensial untuk mengawal misi tersebut. Sebab, lembaga di mana intelektualitas berkembang adalah tempat paling ideal memulai rehabilitasi nama Islam. Terlebih di Indonesia, di mana kebijakan Nasional diarahkan pada keragaman dan toleransi," ungkap Helmi.

Helmi menambahkan, melalui kegiatan ini diharapkan muncul formulasi intelektual yang mencerahkan bagi dunia Islam dalam menghadapi isu kekerasan dan terorisme. Formulasi intelektual ini akan dirumuskan secara mandiri oleh tiap-tiap Perguruan Tinggi Islam anggota AIUA di seluruh Asia agar menjadi gerakan anti-kekerasan dan terorisme.

Dengan demikian, target akhir dari Konferensi Internasional tersebut menjadi dampak positif bagi Peradaban Dunia Islam. "Adalah harapan besar ketika Peradaban Islam menjulang tinggi di tengah pergaulan internasional tidak karena kekerasannya tapi karena kemajuan pemikiran, hasil teknologi, dan etikanya," kata Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

AIUA didirikan pada 2015 dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-1 para Rektor Lembaga Tinggi Islam Malaysia di Riau. Asosiasi tersebut bertujuan membantu seluruh anggotanya dalam memperkuat perguruan tinggi Islam melalui kerja sama mutu dan mencapai distingsi internasional. Baik dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan menggunakan pendekatan Ke-Islam-an yang holistik. AIUA diinisiatori oleh 16 perguruan tinggi yang berasal dari Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina.