Selasa , 21 March 2017, 03:50 WIB

Unair Kembangkan Teknologi Stem Cell

Rep: Kabul Astuti/ Red: Yudha Manggala P Putra
EPA
Stem cell disebut efektif mengatasi penyakit degeneratif yang biasa menyerang orang tua.
Stem cell disebut efektif mengatasi penyakit degeneratif yang biasa menyerang orang tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Airlangga (Unair), Jawa Timur, sedang mengembangkan inovasi teknologi sel punca (stem cell) dan produk metabolit nasional. Wakil Rektor IV Universitas Airlangga, Junaidi Khotib, berharap inovasi ini dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang dan membantu para penderita penyakit degeneratif.

Pemerintah pusat menggelontorkan dana Rp 2,9 miliar untuk mendukung inovasi ini. "Inovasi yang kami kembangkan dan unggulkan saat ini adalah stem cell sebagai upaya untuk mendapatkan suatu strategi yang baik dalam mengatasi penyakit-penyakit yang sifatnya degeneratif," kata Junaidi Khotib, kepada Republika, Senin (20/3).

Junaidi mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga dan salah satu perusahaan farmasi tanah air, untuk mengembangkan dua jenis metabolit dari sel punca. Metabolit dari sel punca ini bakal difokuskan pada bidang kosmetika. Ini menjawab kebutuhan kaum hawa yang selalu ingin tampil cantik dan awet muda.

Menurut Junaidi, ada dua produk dari sel punca yang dikembangkan ada, yaitu alogenik dan autologous. Autologous berarti sel punca diambil dari diri orang yang bersangkutan. Jenis transplantasi autologous biasanya diterapkan pada terapi kanker.

Setelah mendapat terapi tertentu, sel punca yang sudah diambil dari tubuh pasien dikembalikan lagi sehingga dampak kanker bisa ditekan sedini mungkin.

Lanjut Junaidi, alogenik berarti sel punca berasal dari orang lain (donor). Metode ini ditujukan terutama untuk mengatasi penyakit diabetes dan penuaan. Junaidi menerangkan, penuaan adalah proses fisiologis yang pasti dialami setiap orang. Tapi, kualitas hidup seseorang akan tetap baik ketika tubuhnya mampu menjalankan fungsi dengan baik secara fisiologis, meskipun usia bertambah.

Metabolit dari sel punca yang tengah dikembangkan Unair ini diklaim mampu mengatasi masalah penuaan. "Yang kami kembangkan adalah untuk mengatasi penyakit dan memperbaiki kualitas hidup setiap orang. Harapan kami ketika orang berusia 80 tahun, sama seperti fungsi-fungsi fisiologis pada usia 40 tahun," ujar Junaidi.

Wakil Rektor IV Universitas Airlangga ini menuturkan, kebutuhan orang Indonesia akan teknologi transplantasi sel punca makin tinggi. Banyak pasien yang dikirim ke rumah sakit-rumah sakit di luar negeri demi memperoleh perawatan tersebut. Di Singapura dan Malaysia, lebih dari 60 persen pasien yang melakukan pengobatan dengan sel punca adalah orang Indonesia. Karena itu, akan sangat baik dan hemat bila metode tersebut bisa dikembangkan di Indonesia.

Junaidi menambahkan, jenis transplantasi sel punca autologous sekarang sudah diimplementasikan kepada pasien di RS Pendidikan Universitas Airlangga. Untuk alogenik, saat ini sedang dilakukan uji klinik dan dalam tahap kerja sama dengan PT Pharos Indonesia. Sel punca dalam metode alogenik diambil dari sumsum tulang donor. Ia menyebut, tingkat keberhasilan metode ini pada 120 sampel pasien diabetes sudah mencapai kurang lebih 70 persen.

"Kami sudah melakukan uji klinis, untuk yang diabet saja sudah lebih dari 120 pasien yang kami lakukan pengujian dan hasilnya sangat baik. Kalau dulu pasien diabet itu pasti menggunakan obat seumur hidup, dengan adanya treatment stem cell ini, yang mampu menghasilkan sel beta pada pankreasnya, dia sudah bisa stop menggunakan obat-obatan," kata Junaidi.

Inovasi unggulan ini menerima bantuan dana inovasi teknologi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam Forum Inovasi Industri di Jakarta, Senin (20/3). Total ada 13 proposal perguruan tinggi yang didanai, berasal dari UI, UGM, ITB, IPB, ITS, UNAIR, UNHAS, dan UNDIP.