Selasa , 08 November 2016, 13:17 WIB

Gara-Gara Sampah, Mahasiswa ITS Ikut Winter School di AS

Rep: Binti Solikhah/ Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Risky Andrianto
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api kebakaran gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (15/9).
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api kebakaran gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (15/9).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Galuh Sekar Arum, berhasil mewakili Indonesia dalam ajang International Solid Waste Association - Solid Waste Institute for Sustainability (ISWA-SWIS) di Arlington, Amerika, pada 27 Januari 2017. Arum yang mengangkat permasalahan sekolah adiwiyata menjadi satu-satunya wakil Indonesia di ajang tersebut.

Mengenalkan Program Adiwiyata sebagai salah satu penanganan masalah sampah di Indonesia membuat Galuh Sekar Arum sukses menjuarai kompetisi esai ISWA-SWIS 2017. Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan ini pun memperoleh kesempatan untuk mengikuti program Winter School di Universitas Texas secara cuma-cuma.

“Dibantu oleh ketua jurusan saya, Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan kesempatan tersebut. Kagetnya, saya adalah satu-satunya yang berasal dari Indonesia,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (8/11).

Program Adiwiyata yang telah diterapkan sejak 2006 di banyak sekolah ini rupanya menjadi ciri khas pendidikan manajemen sampah di Indonesia. Menariknya, program ini hanya dapat ditemui di Indonesia dan mulai diadaptasi oleh beberapa negara. “Salah satu programnya adalah bank sampah dan kini diadaptasi oleh Filipina,” kata gadis kelahiran Balikpapan ini.

Arum mengambil studi di Kelurahan Semampir, Surabaya. Ia mengaku program ini terbukti mampu mereduksi jumlah timbunan sampah dengan sangat efektif. Bahkan mencapai lebih dari 12 persen dibandingkan sekolah non-Adiwiyata yang hanya mencapai dua persen. Menurutnya, hal ini menjadi stimulus yang baik, utamanya bagi anak-anak, untuk terbiasa mereduksi sampah dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahkan jika diproyeksikan, program ini pada tahun 2026 akan mampu mereduksi sampah hingga hampir 25 persen,” kata dia.

Selain program bank sampah, kegiatan sekolah Adiwiyata lain yang turut menyumbang partisipasi reduksi sampah antara lain aktivitas komposting. Dalam kegiatannya, siswa tak hanya diajak mengolah sampah organik menjadi kompos namun juga dikenalkan secara langsung dengan program reduksi sampah berbasis 3R.

“Jika dihitung, dari total 16 sekolah yang menjadi sampel angka yang dihasilkan benar-benar mampu mengurangi beban pengolahan sampah di TPA Benowo. Hal ini sangat baik mengingat kapasitas TPA Benowo yang juga mulai berkurang,” kata dia.