Senin , 01 August 2016, 16:26 WIB

Mahasiswa UB Latih Warga Rakit Perangkat Pengusir Kelelawar

Rep: Lintar Satria/ Red: Dwi Murdaningsih
Kelelawar (Ilustrasi)
Kelelawar (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) memberikan pelatihan perakitan solar cell dan piranti elektronik. Para mahasiswa memberi pelatihan ini kepada perwakilan karang taruna, remaja masjid, dan warga di lingkungan Masjid Al-Ghozali, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

"Awalnya kita menawarkan pelatihan teknik perakitan solar cell dan piranti elektronik pendukung, namun mereka juga curhat butuh solusi mengatasi gangguan kelelawar di lingkungan masjid. Akhirnya kami juga memberikan pelatihan pembuatan perangkat elektronik pengusir kelelawar," kata dosen penanggung jawab pelatihan ini, Eka Maulana dalam siaran pers yang Republika.co.id terima, Senin (1/8).

Pelatihan yang dihadiri oleh sekitar 30 peserta tersebut berlangsung pada 30-31 Juli 2016. Selain Eka, mahasiswa yang terlibat antara lain Hasan, Doni Darmawan Putra, Muhammad Fatahillah, Amrizal Karim Amrulloh, Muhammad Ilham Akbar, Muslichin, Mahfudz, dan Muhammad Arsil Khaji.

Eka menuturkan, prinsip kerja perangkat pengusir kelelawar sangat sederhana. Yakni menggunakan frekuensi ultrasonik yang dipancarkan melalui transduser untuk menganggu sistem komunikasi dan navigasi kelelawar.

Frekuensi tersebut dapat dibangkitkan pada nilai tertentu untuk proses berkomunikasi atau berinteraksi antara makhluk hidup seperti memanggil, mengusir, atau bahkan untuk membantu pertumbuhan. Sementara, kelelawar mengeluarkan pulsa gelombang ultrasonik dengan frekuensi sekitar 30-50 kHz untuk sistem komunikasi dan navigasi.

"Melalui sinyal dengan frekuensi tertentu yang dipancarkan perangkat elektronik, kelelawar akan merasa terganggu dan diharapkan akan pergi serta tidak membuat kerusuhan," katanya.

Eka mengibaratkan manusia juga akan terganggu dan risau bila didengarkan sinyal berfrekuensi tinggi. Proses perakitan perangkat pengusir kelelawar juga tidak memakan waktu yang lama. Hanya saja untuk masyarakat awam dibutuhkan proses untuk mempelajari dan membuat pemrograman pada komponen mikrokontroller.

Pada perangkat pengusir kelelawar yang terpasang di Masjid Al-Ghozali, sumber dayanya dibangkitkan menggunakan solar cell dengan daya keluaran 50 Watt. Solar cell ini terhubung dengan solar controller regulator, untuk kemudian disimpan kedalam baterai dan mensuplai perangkat.

"Target awal solar cell hanya digunakan untuk menghidupi perangkat pengusir kelelawar. Tapi ke depan diharapkan bisa digunakan untuk cadangan listrik perangkat elektronik masjid sepertiamplifier (pengeras suara) dan lampu untuk penerangan," tambah dosen asli Blitar itu.