Kamis 16 Jun 2016 01:10 WIB

Sekolah Tinggi Pariwisata Kian Diminati Masyarakat

STP Bandung
Foto: dok
STP Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sekolah Tinggi dan Akademi Pariwisata di bawah naungan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kian diminati masyarakat. Tahun ini, jumlah calon mahasiswa yang mendaftar ke lembaga pendidikan tinggi pariwisata itu melonjak 20 persen dibanding tahun lalu.

Tahun ini, calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 9.800 orang, sedangkan yang diterima hanya 4.631 orang. Tahun lalu jumlah pendaftar mencapai 8.200 orang. Melonjaknya minat masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi dan Akademi Pariwisata mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata Arief Yahya.

“Itu menunjukkan bahwa pamor dan reputasi sekolah-sekolah yang melahirkan professional di bidang pariwisata makin dibutuhkan,” ujar Arief Yahya dalam keterangannya, Rabu (15/6).  Saat ini, Kemenpar membina empat kampus, antara lain; STP Bandung bakal menerima 3.061 mahasiswa, STP Nusa Dua Bali 720 mahasiswa, Politeknik Pariwisata Negeri Makassar 450 mahasiswa, dan Akademi Pariwisata Medan 400 mahasiswa.  

Masih ada dua lagi yang baru tahun ini menerima mahasiswa, yakni Politeknik Pariwisata Negeri Palembang akan menerima 208 mahasiswa, dan Politeknik Pariwisata Negeri Lombok dengan 120 mahasiswa. “Sektor pariwisata memang sedang menjadi trending topic saat ini. Lulusan STP Bandung misalnya, 40 persen bekerja di luar negeri. Akpar Medan 30 persen juga direkrut oleh perusahaan asing. Rata-rata dari empat kampus itu 30 persen bekerja di luar negeri. Sisanya, terserap habis di sektor pariwisata, bahkan selalu kekurangan, sehingga mahasiswa yang belum lulus pun sudah menjadi rebutan perusahaan,” ungkap dia.

Fakta ini, lanjut dia, membuktikan bahwa mutu pendidikan di sekolah kepariwisataan negeri itu semakin diakui di dunia kerja. Selain itu, papar dia, sektor pariwisata semakin hidup, bergairah, dan membutuhkan banyak tenaga terdidik. “Karena itu, system pendidikan dari model rekrutmen atau penerimaan mahasiswa barunya harus betul-betul dijaga agar out put sarjananya tetap memegang teguh standar kualitas yang ditentukan,” ungkap Menpar.

Deputi Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Kemenpar, Prof Ahman Sya menjelaskan, mulai tahun ini empat sekolah milik Kemenpar itu diseleksi secara bersama-sama. Namanya, Seleksi Bersama Masuk Sekolah Tinggi, Akademi, dan Politeknik Pariwisata (SBM-STAPP), yang digelar serentak di empat Perguruan Tinggi Pariwisata Negeri. Edisi perdana, empat kampus itu diseleksi bersama ini.

“Tes SBMSTAPP dilaksanakan serentak di empat Perguruan Tinggi Pariwisata Negeri yang berada di bawah Kementerian Pariwisata. Ada Akpar Medan, STP Bandung, STP Nusa Dua Bali dan Poltek Pariwisata Negeri Makassar. Jadi hasilnya pasti lebih fair, lebih standar,” ungkapnya.

Seluruh peserta seleksi harus melewati beragam tes. Dari mulai tes Bahasa Inggris, psikotes, wawancara, hingga tes kesehatan, semua harus dilalui tanpa terkecuali. “Yang lulus, akan didistribusikan ke delapan program studi sesuai dengan bakat dan minatnya,” ujarnya.

Ke delapan program studi itu adalah Manajemen Divisi Kamar, Manajemen tata Hidangan, Manajemen Tata Boga, Administrasi Perhotelan, Manajemen Bisnis Jasa Perjalanan Wisata, Manajemen Bisnis Perjalanan, Manajemen Konvensi dan Perhelatan dan Manajemen Kepariwisataan.

Selain menerima mahasiswa baru melalui SBMSTAPP, Kemenpar juga membuka jalur Seleksi Masuk Mandiri (SMM). Pendaftaran via SMM masih terbuka hingga 18 Juli 2016. “Seperti halnya dengan seleksi bersama, seleksi mandiri ini diperuntukkan bagi siswa SMA, MA, SMK, atau yang setara untuk mengikuti pendidikan tinggi pariwisata,” katanya.

Dalam seleksi mandiri ini disiapkan program bebas tes masuk bagi siswa berprestasi dan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi namun tidak mampu dari sisi ekonomi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement