Rabu , 30 September 2015, 22:04 WIB

UI Ingin Bantu Negara Ungkap Misteri Tragedi 1965

Red: Indah Wulandari
Republika/Agung Supriyanto
Keluarga korban tragedi 1965 dan penculikan aktivis prodemokrasi yang diwakili oleh Ruyati Darwin mendatangi Kantor Ombudsman RI, Jakarta, Senin (9/6).
Keluarga korban tragedi 1965 dan penculikan aktivis prodemokrasi yang diwakili oleh Ruyati Darwin mendatangi Kantor Ombudsman RI, Jakarta, Senin (9/6).

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Nasib korban Tragedi 1965 masih masih menjadi isu yang tabu untuk diperbincangkan. Walhasil, pengungkapan fakta atas kejadian itu seolah menjadi hal yang haram untuk dibuka.

"Kita ingin negara mengusut kasus genosida ini. Karena selama ini kita mungkin tidak tahu apa sih yang sebenarnya terjadi 50 tahun lalu," kata Peneliti Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Saras Dewi kepada Republika.co.id, Rabu (30/9).

Menurut dia, negara perlu mengambil peran terhadap korban pembantaian sadis itu. Lantaran  banyak remaja wanita yang ditangkap dan ditahan tanpa ada proses peradilan karena dianggap berafiliasi dengan kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Padahal, mereka tidak tahu apa itu PKI. Tapi, mereka ditangkap dan dipenjara tanpa proses hukum dan mereka diperlakukan tidak pantas," tutur Saras.

UI sebagai institusi pendidikan negara, menurutnya, ingin berperan sebagai mediator yang menyelenggarakan diskusi membahas pembantaian ini. Pembahasan masalah ini menjadi tidak mungkin dilakukan di ruang terbuka karena tentunya banyak pihak yang berprasangka buruk.

"Selain memberikan aspek teoritis, kita ingin bisa bersentuhan untuk persoalan sosial dan yang bersinggungan dengan peristiwa," katanya.

Peran mediasi tersebut diwujudkan berupa momen peringatan Tragedi 1965. Untuk mengisi momen tersebut Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (BEM FIB UI) bekerjasama dengan sejumlah departemen dan program studi menggelar rangkaian acara seminar dan pemutaran film.

Acara digelar selama tiga hari mulai 30 September hingga 2 Oktober 2015 mendatang. Pada 1 Oktober akan digelar diskusi dengan tema 50 Tahun Hantu Komunisme yang membahas soal pemahaman mengenai komunisme.

Hadir dalam diskusi itu Muhammad Iskandar (dosen sejarah UI), Saleh Asrojamhari (sejarawan militer UI), Berto Tukan (perwakilan redaktur Indo Progres) dan Perdana Putri (perwakilan alumni).

Pada 2 Oktober akan dipaparkan serangkaian kesaksian korban pembantaian. Acara ini akan digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.

"Kita ingin memberanikan diri dalam membantu pengungkapan peristiwa itu. Dengan diskusi semacam ini membuka ruang bagi para korban untuk bisa bicara dengan mengungkapkan kesaksiannya," ujar Saras.