Selasa , 07 April 2015, 05:32 WIB

KSAD: Perang Proxi, Australia di Balik Lepasnya Timor Timur

Red: Erik Purnama Putra
Kostrad
KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi Panglima Kostrad Letjen Mulyono di makan Soeharto.
KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi Panglima Kostrad Letjen Mulyono di makan Soeharto.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Bangsa Indonesia harus siap menghadapi berbagai tantangan jika ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045. Gatot mengungkapkan, perang yang akan segera dihadapi bangsa ini adalah perebutan energi. Berbagai gejala yang mengarah pada perang tersebut bahkan sudah mulai tampak, salah satunya melalui perang proxi (proxy war).

“Proxy war adalah perang dengan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti perang secara langsung untuk menghindari risiko kehancuran fatal,” kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Gatot Nurmantyo di depan 8 ribu mahasiswa dalam stadium general di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (6/4).

Mantan panglima Kostrad tersebut mencontohkan, lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada 1998, merupakan contoh nyata proxy war. Menurut dia, pemerintah Australia kala itu membantu Timor Timur untuk lepas dari Indonesia karena ingin menguasai cadangan minyak yang melimpah di daerah tersebut.

Fakta tersebut, kata dia, diperkuat dengan pengakuan mantan perdana menteri Timor Leste Xanana Gusmao. “Xanana Gusmao waktu itu mengonfirmasi langsung bahwa hal ini benar. Bahwa Australia berada di balik lepasnya Timor Timur,” kata Gatot dalam siaran pers yang diterima Republika.

Karena itu, lanjut dia, agar negara ini tak mudah terprovokasi, Indonesia sudah sepatutnya waspada. Hanya saja, Indonesia memiliki modal kuat, yaitu ideologi Pancasila. Hal itu bisa menjadi modal bagi Indonesia bisa tetap tegak.

“Kita punya ideologi yang khas, yang tidak ditiru negara manapun. Kita punya cara beragama yang diatur dengan Ketuhanan Yang Mahaesa. Kita punya cara bersosial yang diatur dalam keadilan yang adil dan beradab. Kita punya semangat kebangsaan dengan persatuan Indonesia. Kita punya cara bernegara dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan semuanya bermuara kepada tujuan nasional kita, untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

Dalam penutup orasinya, Gatot menyemangati mahasiswa UMM untuk lebih aktif membangun bangsa dengan ilmu yang dipelajari selama kuliah. “Ilmu saja tidak cukup. Harus dibekali keimanan agar ilmu tersebut tidak disalahgunakan,” pesan Gatot.