Senin, 21 Jumadil Akhir 1435 / 21 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

RUU Perguruan Tinggi Rugikan Kampus Swasta

Selasa, 22 Februari 2011, 17:42 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Menurut Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah III, Suyatno, rancangan undang-undang perguruan tinggi tak ubahnya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan.  ‘’Saya lihat dlm 82 pasal, 10 bab itu klo dilihat dari filosofi pemikiran isinya tidak relevan krn isinya menyatakan kampus harus punya daya saing tapi isinya tidak jauh dari tata kelola, ya mirip-mirip BHP lah,’’ ungkap Suyatno yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), pada Pra Rapat Kerja Nasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Jakarta, Selasa. (22/2).

RUU yang sedang dibahas DPR ini belum mewakili kampus khususnya dalam hal pengembangan pendidikan dan tak meningkatkan daya saing. Apalagi ia menambahkan dalam dari 82 pasal dalam RUU ini, hanya empat pasal yang mengatur Perguruan Tinggi Masyarakat (swasta).

Sehingga ‘duplikasi’ pasal UU BHP yang telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi ini menurutnya akan mematikan kampus swasta. " Merugikan kampus swasta termasuk bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang jumlahnya lebih dari 150 di Indonesia, lebih banyak daripada jumlah Perguruan Tinggi Negeri yang hanya 85 buah," paparnya.

Kemudian dalam RUU ini terlihat bahwa Pemerintah juga seperti lepas dari tanggung jawab, khususnya dalam hal pembiayaan. Apalagi menurutnya ditemukan kata ‘dapat’ yang bisa diartikan pemerintah seenaknya. Padahal tugas pembiayaan ini menurutnya sifatnya wajib bagi Pemerintah.‘’RUU ini kembali membuat perguruan swasta terpinggirkan,’’ ucapnya.

Kemudian ia menilai bahwa RUU Perguruan Tinggi ini akan membuat biaya kuliah yang lebih mahal. Hal ini karena berdasarkan RUU ini pemerintah akan fokus membiayai PTN setengah Mandiri, sehingga kampus mandiri yang dananya tak cukup akan menarik besar dari mahasiswa.

"RUU seharusnya juga mengatur kampus-kampus mandiri mengembangkan ilmu-ilmu langka namun penting seperti pertanian, kelautan, astronomi, perminyakan, hingga sejarah dan filsafat. Kalau tidak diatur, semua perguruan tinggi hanya buka kedokteran dan ekonomi," paparnya.

Reporter : ichsan emrald
Redaktur : Krisman Purwoko
Menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya". (HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  bim64 Rabu, 23 Februari 2011, 11:25
dengan nama pemuda indonesia generasi penerus bangsa
kita tahu pendidikan di indonesia itu di nomor satukan,
mngkin dampak dari rsa trauma bangsa ini dari penjajahan,
tpi skrg pendidikan bkn utk memajukan generasi bangsa ini tpi menjadi ajang peruntung.knpa biaya nya mhal.pemuda bnyak yg kecewa......
sebvelumnya maaf
  chairoel Selasa, 22 Februari 2011, 21:39
Untuk Pak Redaktur... bahasa penulisannya udah bener gak. Masa kaya bahasa SMS dinaikkan...

  VIDEO TERBARU
Fitur Kamera Jadi Pertimbangan Memilih Ponsel Pintar
AKARTA-- Fitur kamera yang tinggi menjadi salah satu pertimbangan seseorang memilih ponsel pintar. Untuk itu, Acer Liquid E3 menjadikan kamera sebagai salah satu...