Rabu , 11 Oktober 2017, 21:34 WIB

'Ide Soal Dirjen Pesantren Sudah Lama Diinginkan'

Rep: Fuji E Permana/ Red: Esthi Maharani
Antara
Pondok Pesantren
Pondok Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin menanggapi usulan adanya kementerian yang khusus mengurusi pondok pesantren. Menurutnya, yang mengurus pesantren setingkat menteri lebih bagus, kalau pun tidak setingkat menteri diharapkan diurus setingkat direktorat jenderal (dirjen).

Kamaruddin mengatakan, pesantren sebuah entitas yang sangat besar, jumlahnya sangat bayak sekali. Pesantren melaksanakan pendidikan bidang agama, juga mengajarkan keterampilan hidup, wirausaha dan lain sebagainya. Selain pesantren, ada madrasah diniyah yang jumlahnya juga sangat banyak.

"Sekarang pesantren dan madrasah diniyah ditangani oleh direktur. Setingkat direktur sangat sederhana untuk menangani pesantren yang sangat banyak," kata Kamaruddin kepada Republika, Rabu (11/10).

Ia mengatakan, seandainya direktur yang mengurusi pesantren ditingkatkan menjadi setingkat dirjen. Mungkin akan bisa berbuat lebih banyak. Kalau yang mengurusi pesantren setingkat menteri tentu lebih bagus. "Tetapi seandainya belum memungkinkan saya kira direktur jenderal juga sudah sangat luar biasa," ujarnya.

Ia menjelaskan, kalau pesantren dan madrasah diniyah ditangani setingkat dirjen. Nanti akan ada beberapa direktur untuk membantu. Nanti bisa ada direktur pesantren, direktur madrasah diniyah dan lain sebagainya.

Ia menceritakan, ide pembuatan Dirjen Pesantren sebenarnya sudah lama diinginkan. Dirjen Pendidikan Islam sangat besar, mengurusi RA, MI, MTs, MA, Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam. Dirjennya hanya satu, jadi terasa sangat sederhana strukturnya. Sementara tanggungjawabnya sangat besar sekali.

"Kalau dirjen dimekarkan, itu mungkin alternatif yang paling pas. Yang kita wacanakan itu tiga dirjen, dirjen pesantren, dirjen pendidikan tinggi islam, dirjen madrasah," jelasnya.

Ia menginformasikan, siswa dan siswi madrasah jumlahnya mencapai 10 juta orang dari 72 ribu madrasah. Perguruan Tinggi Islam jumlahnya sekitar 700 lebih. Pesantren jumlahnya sekitar 30 ribu. Kalau melihat jumlah pesantren dan madrasah diniyah yang begitu banyak, menurutnya, tentu Presiden Jokowi lebih memahaminya.