Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 / 23 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

RSBI Bukan Alasan Biaya Sekolah Jadi Mahal

Kamis, 22 Juli 2010, 06:29 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG--Fasilitator Pengembangan Sekolah Menengah Atas (SMA) Berstandar Internasional, Direktorat Pembinaan SMA, Kementerian Pendidikan Nasional, Soedjono, menilai status rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) bukan alasan biaya sekolah menjadi mahal. "Sistem pendidikan di RSBI memang lebih dibandingkan sekolah-sekolah 'biasa', namun hal itu seharusnya tidak memengaruhi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan orang tua siswa," katanya di Semarang, Rabu.

Menurut dia, RSBI tidak boleh tercitra sebagai sekolah yang eksklusif dan hanya bisa diakses para siswa yang berasal dari keluarga kaya, namun harus melihat siswa berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Berdasarkan Permendiknas Nomor 78/2009, kata dia, sekolah RSBI wajib menyediakan kuota sebesar 20 persen untuk memfasilitasi siswa-siswa berprestasi yang berasal dari keluarga miskin dan tidak mampu. "Ketentuan itu harus dipenuhi oleh setiap sekolah RSBI karena setiap tahun selalu dievaluasi, kalau sampai ada sekolah RSBI yang jumlah siswa miskinnya kurang dari 20 persen akan menurunkan penilaian," katanya.

Ia mengaku alasan-alasan seperti jumlah pendaftar yang berasal dari masyarakat miskin tidak sampai lebih dari 20 persen, padahal pihak sekolah sudah menyediakan kuota sebesar itu untuk memfasilitasi mereka. "Namun, alasan-alasan itu tidak berlaku. Sekolah harus berupaya memenuhi ketentuan siswa miskin sebesar 20 persen berdasarkan Permendiknas Nomor 78/2009 itu dengan berbagai cara dan upaya," katanya.

Sebab, kata dia, masyarakat bisa saja belum mengetahui hal tersebut karena pihak sekolah RSBI kurang mensosialisasikan kebijakan pemerintah itu sehingga hal itu menjadi tanggung jawab pihak sekolah. "Setiap sekolah RSBI akan dievaluasi setiap tahun dan akan divalidasi terkait statusnya itu setelah lima tahun ditetapkan. Kalau bagus akan naik tingkat menjadi SBI, sedangkan jika buruk akan diturunkan," katanya.

Menurut dia, penetapan status RSBI dikeluarkan pertama kali pada 2006 untuk sekitar 100 sekolah se-Indonesia sehingga pengkajian dan validasi status RSBI paling cepat bisa dilakukan pada 2011 mendatang. "Untuk SMA RSBI, saat ini sudah ada sekitar 320 sekolah se-Indonesia. Setiap sekolah RSBI tersebut pasti menjalani evaluasi dan validasi terkait statusnya setelah lima tahun penetapan statusnya itu," katanya.

Terkait evaluasi pembelajaran di RSBI yang sama dengan sekolah-sekolah "biasa", yakni menggunakan ujian nasional (UN), ia mengakuinya, namun target kelulusan dan nilai siswa sekolah RSBI tetap lebih tinggi. "Kalau sekolah biasa sesuai standar kelulusan UN, yakni rata-rata 5,5, RSBI harus lebih tinggi, misalnya rata-rata nilai sebesar 7 atau 8. Ini yang tidak banyak diketahui masyarakat luas," katanya.

Penetapan target nilai UN yang lebih tinggi itu, kata dia, memang tidak berasal dari pemerintah, tetapi berasal dari sekolah masing-masing yang lebih mengetahui kondisi dan situasi di sekolahnya. "Target itu memang bervariasi, tetapi harus lebih tinggi dari sekolah biasa. Nantinya, hal itu akan digunakan sebagai salah satu indikator penilaian terhadap kinerja RSBI yang dilakukan oleh pemerintah," kata Soedjono.

Redaktur : Krisman Purwoko
Sumber : ant
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka."((Hujuraat 49:11) )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  arin Kamis, 22 Juli 2010, 16:46
judulnya tetap sekolah buat orang kaya..betul tidak..
  gustur Kamis, 22 Juli 2010, 14:39
apapun kriterianya, itu hanya akal akalan saja, semuanya bisa di manipulasi, ujung ujugnya duit juga. keberpihakan terhadap yang miskin, RSBI tidak ada.
  Fajar Kamis, 22 Juli 2010, 05:39
sekolah2 itu pada pinter memanipulasi data. jadi kami mengharapkan pengawasannya lebih ketat. Kalo perlu melibatkan pihak2 LSM yang berkompeten untuk ikut mengawasi dan mengaudit sekolah yang RSBI.
  F Hamzah Kamis, 22 Juli 2010, 03:55
RSBI. jangan sampe jdi Rintisan Sekolah Bertarif Internasional bukan malah menjadi Bertaraf International.. jangan deman SBI atau RSBI deh klo sekolah itu emang belum mampu toek Bertaraf international..