Kamis, 24 Jumadil Akhir 1435 / 24 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Luar Biasa, Seorang Guru SD Tangani Seluruh Kelas Sekaligus

Senin, 19 Juli 2010, 08:11 WIB
Komentar : 0
Sekolah SD di pedalaman, ilustrasi
Sekolah SD di pedalaman, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Anggaran pendidikan di negeri ini terus meningkat setiap tahun. Bahkan, pemerintah dengan bangganya mengatakan anggaran itu sudah melebihi batas minimum 20 persen dari anggaran negara seperti diamanatkan UUD.

Tapi berbanding luruskah, peningkatan anggaran itu dengan kualitas pendidikan di lapangan?
Tampaknya jawabannya masih seperti kata pepatah, api jauh dari panggang. Lihat saja kisah seorang guru di pedalaman Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Seorang guru SD mengajar sendirian dan menangani murid dari kelas satu sampai enam sekaligus!

Adalah Joni (38 tahun), guru SD 16 di pedalaman Dusun Gun Jemak, Kabupaten Sanggau, Kalbar. Dia sudah 3,5 tahun ini menangani seluruh kelas itu tanpa bantuan guru lain. Karena keterbatasan tanaga pendidik, dia terpaksa menggabungkan enam kelas ke dalam tiga ruang kelas. Kelas satu digabung dengan kelas dua, kelas tiga digabung dengan kelas empat, dan kelas lima dengan kelas enam. ''Penggabungan itu untuk mempermudah proses belajar dan mengajar,'' kata lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sanggau tahun 1986 itu.

Joni mulai menjadi PNS pada 2005 setelah sebelumnya selama dua tahun menjadi guru honorer.
Dengan niat tulus dan kegigihannya, proses pembelajaran bisa tetap berlangsung, bahkan kini anak didiknya ada yang sampai menempuh pendidikan tinggi di bangku kuliah.

Gun Jemak adalah sebuah dusun di hulu Sungai Sekayam dan hanya bisa ditempuh menggunakan alat transportasi sungai seperti speed boat atau sampan, yang waktu tempuhnya delapan jam dari ibu kota Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Joni mengatakan, pada awalnya SD yang ada di Gun Jemak memiliki lima guru, termasuk dirinya. Namun, empat guru tidak betah sehingga meminta pindah dan meninggalkan Joni sendirian.
Itu sempat membuatnya pusing karena dia harus menjalankan sebuah sekolah dan proses belajar mengajarnya.

''Jika saya berdiam diri, maka bagaimana dengan pendidikan anak-anak di daerah terpencil ini, dan saya sebagai guru harus bertanggungjawab secara moral dan berkewajiban untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Maka saya terus mengajar walaupun hanya sendiri,'' kata Joni mengisahkan.

Ia pun memboyong keluarganya termasuk tiga anaknya ke dusun pedalaman itu agar betah di tempat mengajar. Untungnya, istrinya sangat mendukung dan memotivasinya untuk terus memberikan yang terbaik bagi anak-anak bangsa di Gun Jemak.

Namun tahun ini Joni tidak lagi mengajar sendiri, karena pada tahun 2009 datang guru bantu lainnya yang ditugaskan di daerah tersebut. Selain itu ada tambahan guru honorer dari warga setempat untuk membantu menjalankan tugas mengajar sehari-hari.

Akhir tahun 2009, Joni mendapatkan tugas baru sebagai guru di SD mini yang hanya memiliki kelas satu sampai klas tiga di Dusun Gun Tembawang. Lokasinya lebih dalam ke pehuluan lagi, kurang lebih dua jam jalan kaki dari Gun Jemak. Sebenarnya dusun Gun Tembawang adalah dusun lama sebelum adanya kampung baru Gun Jemak.

Reporter : Antara
Redaktur : Budi Raharjo
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  darmawan Jumat, 26 November 2010, 17:58
Selamat berjuang bapak guru! Ayo cerdaskan negeri! Jangan melihat hasil pendidikan masa lalu (karena banyak dari mereka sudah terlanjur jadi koruptor) tapi mari kita upayakan generasi mendatang lebih berakhlakul karimah.
  nuryono Jumat, 12 November 2010, 13:10
benar - benar guru sejati....
Gimana yang lolos sertifikasi....??? oooo ... baru menikmati...hahahaha....
  berfay Rabu, 3 November 2010, 11:36
tanpa tanda jasa, mengabdi dengan tulus ikhlas.semoga semua seperti ini
  Sanie el-Kudusi Rabu, 21 Juli 2010, 07:54
Alangkah menderitanya nasib guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Semoga amal dan perjuanganmu mencerdaskan bangsa tak'kan sia-sia.
  isbd Senin, 19 Juli 2010, 18:33
ini adalah sebuah amal yang tidak sia-sia dan sangat bernilai tinggi bagi Agama dan Bangsa,..
tanpa pengorbanan dan niat yang ikhlas tentu semuanya takkan berbuah apa-apa,..