Senin, 21 Jumadil Akhir 1435 / 21 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Mendiknas: Ujian Nasional Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 April 2010, 03:45 WIB
Komentar : 0
mendiknas M Nuh
mendiknas M Nuh

PURWOKERTO--Meski angka kelulusan siswa tahun 2010 ini cukup tinggi, Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh menyatakan, penentu kelulusan siswa melalui ujian nasional akan tetap dipertahankan. Hal itu diungkapkan Mendiknas, saat berdialog dengan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di gedung Rektorat Unsoed, Rabu (28/4).

Mendiknas mengakui, angka kelulusan siswa tahun 2010 ini mengalami penurunanan dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, dari sekitar 16 ribu sekolah setingkat SLTA di Tanah Air, jumlah sekolah yang angka kelulusannnya nol persen mencapai 267 sekolah.

Namun dia juga menyebutkan, sekolah yang memiliki tingkat kelulusan mencapai 100 persen juga lebih tinggi daripada sekolah yang tingkat kelulusannya 0 persen. Yakni, mencapai sekitar 6.000 sekolah di Tanah Air.

Untuk itu, dia menilai, desakan penghapusan UN sebagai penentu kelulusan siswa sebagai hal yang tidak realistis. ''Ibaratnya, penyelenggaraan UN itu sebagai cek laboratorium untuk tes kesehatan. Kalau hasil tes darah seseorang ternyata memiliki kandungan kolesterol tinggi, apakah laboratoriumnya yang harus dibubarkan. Tentu orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi yang harus diobati,'' tegasnya.

Soal kenapa ujian sekolah ini harus dinasional, Mendiknas mengajak berbagai pihak untuk menengok kembali perjalanan sejarah sistem pendidikan di Indonesia. Dia mengingatkan, pada masa awal pemerintahan Indonesia berdiri hingga awal Orde Baru, pemerintah pernah menyelenggarakan sistem ujian yang disebut ujian negara.

Pada masa itu, tingkat kelulusan siswa cukup rendah. Kemudian pada akhir tahun 60-an, pemerintah menghapuskan sistem ujian negara dan mengganti dengan sistem ujian akhir sekolah (UAS). Hasilnya, saat itu hampir 100 persen siswa lulus semua.

Kemudian baru pada tahun 2002, pemerintah menerapkan kembali sistem ujian nasional. ''Saat itu, kita menerapkan standar nilai kelulusan 3,1. Dan itu adalah standar nilai kelulusan yang sangat rendah. Tak ada negara-negara yang menerapkan standar nilai serendah ini. Tapi dari penyelenggaraan UN serendah itu, cukup banyak siswa yang tidak lulus,'' katanya.

Namun demikian, pemerintah secara bertahap terus meningkatkan standar nilai kelulusan UN agar kualitas pendidikan di Tanah Air semakin baik.

Menurutnya, dari perjalanan sejarah sistem pendidikan di Tanah Air, maka bisa dilihat bahwa setelah dialihkan sistem ujian akhir sekolah menjadi UN, ternyata dari tingkat kelulusan yang tadinya mencapai 100 persen, ternyata setelah diterapkan UN menjadi cukup banyak siswa yang tidak lulus.

Dari kenyataan itu, bisa disimpulkan bahwa sistem UAS yang tadinya diterapkan dalam sistem pendidikan di Tanah Air, ternyata tidak memiliki standar kelulusan yang sama antar satu sekolah dengan sekolah lainnya.

Berdasarkan pertimbangan itu, maka pemerintah berpendapat bahwa penerapan UN sebagai sarana penentu kelulusan siswa sangat diperlukan untuk memyamakan standar pendidikan semua sekolah di Tanah Air. ''Bagaimana pun kita tidak ingin, antar satu sekolah dengan sekolah lainnya, ada disparitas kualitas pendidikan yang terlalu besar,' tegasnya.

Reporter : wid
Redaktur : Krisman Purwoko
Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:107))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  kavinji Minggu, 2 Mei 2010, 05:30
Sangat setuju dengan dipertahankannya UN, sebab dengan cara itulah kita dapat mengetahui, mengukur dan mengevaluasi pendidikan kita, yg berpikiran bahwa UN hanya bisnis dan sebagainya itu semua karena mereka tidak berada di dalam sistem yang ada, saya sbagai praktisi sangat mendukung UN. majulah pendidikan Indonesia!!!
  Ahmad Rif'a'i Kamis, 29 April 2010, 23:46
UN sebagai alat ukur standar pendidikan memang perlu, tapi bukan untuk menentukan kelulusan,tuntasnya kompetensi anak didik yang tahu persis adalah guru dan sekolah bersangkutan.berikan kewenangan kelulusan pada mereka..tegakan pendidikan yang jujur, terbuka, dan tidak merugikan semua pihak.yo pa mentri majukan bangsa
  sumringah Kamis, 29 April 2010, 13:58
hidup mendiknas..! lanjutkan..!
biarkan saja generasi kita tambah stress yg ahirnya bunuh diri gara2 nilai UN, yg tidak sama sekali mencerminkan kapasitas intelektual siswa. Anda harus tanggung semua resiko kegagalan bangsa di masa depan !
  learner Kamis, 29 April 2010, 06:44
Kasihan guru yg capek bikin tetek bengek penilaian konprehensif sjak kls 10, kalau penentu kelulusan cuma nilai UN. Bohong kalo ada 4 faktor penentu kelulusan. Faktanya nilai UN "memveto" yang lain. Mestinya tentukan proporsi masing2 faktor. Biar proses jg dihargai. Bkn cuma lihat hasil akhirnya? Pinter kok KEBLINGER!
  totok Kamis, 29 April 2010, 05:02
Pemerintah menentukan standar kelulusan, tp tdk lihat kuali pendidikan di sekolah, pemerintah harus cetak buku untuk siswa sebagai pedoman, kalau siswa tersebut tidak lulus berarti memang tidak layak untuk lulus tdk ada ujian ulang, selama tdk ada pedoman percuma menentukan standar. kasihan murid dan guru pd bingung

  VIDEO TERBARU
Fitur Kamera Jadi Pertimbangan Memilih Ponsel Pintar
AKARTA-- Fitur kamera yang tinggi menjadi salah satu pertimbangan seseorang memilih ponsel pintar. Untuk itu, Acer Liquid E3 menjadikan kamera sebagai salah satu...