Dikti Petakan Kerja Sama dengan PT Asing
Selasa, 08 Desember 2009 08:38 WIB
JAKARTA--Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas akan melakukan pemetaan ulang naskah-naskah kerja sama yang selama ini telah dijalin antara perguruan tinggi (PT) Indonesia dan asing untuk melihat efektivitas program tersebut.
"Kita akui memang sudah ratusan kerja sama dijalin antara perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, namun kenyataannya banyak yang tidak berjalan alias "sleeping MoU" (Nota Kesepahaman yang tidur)," kata Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Harris Iskandar di Jakarta, Senin.
Usai menyaksikan acara penandatanganan nota kesepahaman antara Indiana University of Pennsylvania dengan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ipwija lebih lanjut Harris mengatakan, pihaknya belum memiliki data pasti karena masih dalam proses pemetaan namun diperkirakan jumlahnya cukup banyak.
Mantan Atase Pendidikan di Amerika Serikat itu mengatakan, program kerja sama PT Indonesia dengan PT asing bersifat sangat terbuka, artinya hubungan kerja sama itu tidak perlu dilaporkan ke Ditjen Dikti.
Namun, kerja sama itu sebatas pada pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, riset bersama, program magang maupun penerbitan karya ilmiah bersama.
"Bila naskah kerja sama sudah menyentuh pada kurikulum, pemindahan kredit atau gelar ganda harus diketahui Ditjen Dikti. Kerja sama ini harus disesuaikan dengan kurikulum nasional, termasuk pemberian gelar. Jika tidak, maka gelar dari PT asing itu tidak akan diakui di Indonesia," katanya.
Untuk menggiatkan kembali MoU yang tidak jalan itu, lanjut Harris Iskandar, pihaknya menawarkan sejumlah kegiatan sederhana seperti program pertukaran mahasiswa, dosen, magang atau riset bersama dengan pendanaan ditanggung bersama pemerintah bersama perguruan tinggi bersangkutan. Namun, kegiatan ini harus melewati seleksi nasional.
"Karena perguruan tinggi yang berminat jauh lebih banyak ketimbang anggaran yang disediakan pemerintah. Karena itu, setiap perguruan tinggi diminta untuk mengajukan usulan agar program kerja sama yang telah dilakukan dengan PT asing bisa berjalan," katanya.
Ia mengatakan, pemerintah mendukung program kerja sama PT Indonesia dengan asing karena bisa menjadi salah satu cara pertukaran ilmu dengan pihak asing.
Selain itu, program "dual degree", yakni umumnya dua tahun studi di dalam negeri dan dua tahun lanjutnya studi di PT asing bisa menjadi solusi mengatasi mahalnya biaya pendidikan ke luar negeri.
Melalui program "dual degree" tersebut biaya pendidikan bisa dihemat hingga 65 persen jika dibandingkan langsung belajar ke luar negeri sebagai mahasiswa asing internasional selama empat tahun masa kuliah.
Selain itu, biaya hidup juga lebih murah jika belajar dulu di Indonesia selama dua tahun, kemudian melanjutkan pendidikannya selama dua tahun di luar negeri. Bonusnya ijazah dapat dua, katanya.
Namun, Harris Iskandar mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati memilih perguruan tinggi yang menawarkan program "dual degree", karena ada sementara perguruan tinggi yang mementingkan sisi komersial, namun tidak berkualitas dan hanya menawarkan gelar palsu.
"Untuk mengecek kebenaran dari program pendidikan itu, bisa mengecek ke website www.dikti.go.id. Karena semua data kerja sama dengan PT asing sudah masuk dalam situs itu, di semua perguruan tinggi di Indonesia. Termasuk data akreditasi PT asing di seluruh dunia," tuturnya.
Sementara itu, Bambang Irjanto dari Universitas Proklamasi 45 menyebutkan, pihaknya akan mengenakan biaya pendidikan sekitar 3.000 dolar-5.000 dolar AS per semester untuk program "dual degree" dengan Universitas Indiana, Pennsylvania.
Biaya itu, katanya, jauh lebih murah jika menjadi mahasiswa asing internasional di perguruan tinggi itu sebesar 20.000 dolar AS per semester atau 152 ribu dolar selama 4 tahun. Itu belum termasuk biaya hidup di Amerika.
Hal senada dikemukakan Juniarto Prasetyo dari STIE Ipwija. Pilihan kerja sama jatuh pada Universitas Indiana, karena perguruan tinggi tersebut cukup ternama dan memiliki cukup banyak alumni di Indonesia.
"Setelah konsultasi dengan Dikti, penawaran Universitas Indiana, Pennsylvania layak untuk ditindaklanjuti," kata Juniarto yang pada kesempatan itu didampingi Michele Petrucci, Direktur Kerja Sama Pendidikan Universitas Indiana, Pennsylvania. ant/pur
"Kita akui memang sudah ratusan kerja sama dijalin antara perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, namun kenyataannya banyak yang tidak berjalan alias "sleeping MoU" (Nota Kesepahaman yang tidur)," kata Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Harris Iskandar di Jakarta, Senin.
Usai menyaksikan acara penandatanganan nota kesepahaman antara Indiana University of Pennsylvania dengan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ipwija lebih lanjut Harris mengatakan, pihaknya belum memiliki data pasti karena masih dalam proses pemetaan namun diperkirakan jumlahnya cukup banyak.
Mantan Atase Pendidikan di Amerika Serikat itu mengatakan, program kerja sama PT Indonesia dengan PT asing bersifat sangat terbuka, artinya hubungan kerja sama itu tidak perlu dilaporkan ke Ditjen Dikti.
Namun, kerja sama itu sebatas pada pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, riset bersama, program magang maupun penerbitan karya ilmiah bersama.
"Bila naskah kerja sama sudah menyentuh pada kurikulum, pemindahan kredit atau gelar ganda harus diketahui Ditjen Dikti. Kerja sama ini harus disesuaikan dengan kurikulum nasional, termasuk pemberian gelar. Jika tidak, maka gelar dari PT asing itu tidak akan diakui di Indonesia," katanya.
Untuk menggiatkan kembali MoU yang tidak jalan itu, lanjut Harris Iskandar, pihaknya menawarkan sejumlah kegiatan sederhana seperti program pertukaran mahasiswa, dosen, magang atau riset bersama dengan pendanaan ditanggung bersama pemerintah bersama perguruan tinggi bersangkutan. Namun, kegiatan ini harus melewati seleksi nasional.
"Karena perguruan tinggi yang berminat jauh lebih banyak ketimbang anggaran yang disediakan pemerintah. Karena itu, setiap perguruan tinggi diminta untuk mengajukan usulan agar program kerja sama yang telah dilakukan dengan PT asing bisa berjalan," katanya.
Ia mengatakan, pemerintah mendukung program kerja sama PT Indonesia dengan asing karena bisa menjadi salah satu cara pertukaran ilmu dengan pihak asing.
Selain itu, program "dual degree", yakni umumnya dua tahun studi di dalam negeri dan dua tahun lanjutnya studi di PT asing bisa menjadi solusi mengatasi mahalnya biaya pendidikan ke luar negeri.
Melalui program "dual degree" tersebut biaya pendidikan bisa dihemat hingga 65 persen jika dibandingkan langsung belajar ke luar negeri sebagai mahasiswa asing internasional selama empat tahun masa kuliah.
Selain itu, biaya hidup juga lebih murah jika belajar dulu di Indonesia selama dua tahun, kemudian melanjutkan pendidikannya selama dua tahun di luar negeri. Bonusnya ijazah dapat dua, katanya.
Namun, Harris Iskandar mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati memilih perguruan tinggi yang menawarkan program "dual degree", karena ada sementara perguruan tinggi yang mementingkan sisi komersial, namun tidak berkualitas dan hanya menawarkan gelar palsu.
"Untuk mengecek kebenaran dari program pendidikan itu, bisa mengecek ke website www.dikti.go.id. Karena semua data kerja sama dengan PT asing sudah masuk dalam situs itu, di semua perguruan tinggi di Indonesia. Termasuk data akreditasi PT asing di seluruh dunia," tuturnya.
Sementara itu, Bambang Irjanto dari Universitas Proklamasi 45 menyebutkan, pihaknya akan mengenakan biaya pendidikan sekitar 3.000 dolar-5.000 dolar AS per semester untuk program "dual degree" dengan Universitas Indiana, Pennsylvania.
Biaya itu, katanya, jauh lebih murah jika menjadi mahasiswa asing internasional di perguruan tinggi itu sebesar 20.000 dolar AS per semester atau 152 ribu dolar selama 4 tahun. Itu belum termasuk biaya hidup di Amerika.
Hal senada dikemukakan Juniarto Prasetyo dari STIE Ipwija. Pilihan kerja sama jatuh pada Universitas Indiana, karena perguruan tinggi tersebut cukup ternama dan memiliki cukup banyak alumni di Indonesia.
"Setelah konsultasi dengan Dikti, penawaran Universitas Indiana, Pennsylvania layak untuk ditindaklanjuti," kata Juniarto yang pada kesempatan itu didampingi Michele Petrucci, Direktur Kerja Sama Pendidikan Universitas Indiana, Pennsylvania. ant/pur
295 reads
Isi Komentar




