Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

'Penyakit-penyakit' yang Harus Dihindari Guru

Jumat, 12 Oktober 2012, 15:46 WIB
Komentar : 1
ilustrasi guru
ilustrasi guru

REPUBLIKA.CO.ID, GORONTALO -- Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah, mengingatkan semua guru untuk mewaspadai 10 jenis penyakit, yang menjadi penghalang bagi seorang guru untuk menjadi profesional.

Menurut Idah yang juga istri Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, Jumat (12/10), menjadi guru yang profesional membutuhkan kemauan, kemampuan dan keterampilan yang tinggi dan mau mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk.

Menurutnya, penyakit guru antara lain yaitu 'tipes' yang merupakan singkatan dari 'tidak punya selera'. "Tipe guru seperti ini selalu monoton dalam memberikan pelajaran, sehingga anak-anak menjadi bosan dan malas untuk mengikuti pelajaran," ujarnya.

Ada juga penyakit mual atau 'mutu amat lemah', yakni kualitas guru yang kurang sehingga berpengaruh pada hasil kegiatan belajar mengajar. Ia menambahkan, saat ini sebagian guru sudah diberikan sertifikasi, dengan harapan bisa meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh daerah.

Penyakit lainnya, yakni 'kudis' atau kurang disiplin. Para guru yang dapat menyebabkan murid-murid juga akan meniru kebiasaan negatif tersebut. "Penyakit guru ini menghambat peningkatan mutu pendidikan kita dan sebagai guru yang profesional, untuk itu semua guru termasuk bunda PAUD harus mengatasi penyakit-penyakit tersebut," jelas Idah.

Selain itu, menurutnya lima penyakit berbahaya untuk guru lainnya adalah Tidak Bisa Computer (TBC), Kurang Terampil (KRAM), Asal sampaikan materi kurang akurat (Asam Urat), Lemah Sumber (Lesu), serta di kelas anak-anak remehkan (Diare).

Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : Antara
Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya(HR. Muslim, no. 2588)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  ruslan Rabu, 24 Oktober 2012, 12:48
Itu hanya oknum guru berapa anak yang mampu membaca dan menulis serta berhitung di Indonesia. semua yang disampaikan omong kosong. Angkat sisi baiknya jika ada 10 penyakit maka harus ada sepuluh obatnya.