Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sekolah Dilarang Jual Belikan LKS

Jumat, 27 April 2012, 12:12 WIB
Komentar : 2
Blogspot.com
LKS SMA (ilustrasi).
LKS SMA (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, melarang keras sekolah melakukan jual beli buku paket dan lembar kerja siswa (LSK) dari penerbit mana pun kepada setiap muridnya dengan alasan apapun.

"Kami sudah mengedarkan surat larangan kepada seluruh sekolah baik dari tingkat SD sampai SMA agar tidak lakukan jual beli buku paket maupun LKS kepada setiap muridnya," kata Seketaris Disdik Kabupaten Sukabumi, Maman Abdurahman, Jumat (27/4).

Pelarangan ini juga diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 2 tahun 2008 tentang larangan tenaga pendidik baik, guru, disdik, pemda secara langsung maupun tidak langsung menjual atau menjadi distributor buku sekolah baik buku paket maupun LKS.

Menurutnya, sudah jelas dalam Permendiknas tersebut jika sekolah menjual buku paket maupun LKS melanggar peraturan tersebut. Lebih lanjut, pihaknya tidak pernah memberikan izin dan rekomendasi kepada sekolah untuk menjual buku paket dan LKS kepada muridnya.

"Kami juga sudah mengedarkan surat Kepala Disdik Kabupaten Sukabumi agar setiap sekolah tidak melakukan transaksi jual beli kebutuhan siswa," ujarnya.

Jika ada sekolah melanggar maka kami akan mengusutnya dan memberikan hukuman dari teguran sampai diserahkan kepada pihak inspektorat apakah pemecatan bagi guru khususnya yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), tambahnya.

Untuk melakukan pengawasan tersebut, pihaknya sudah membentuk satuan pengawas pendidikan dan pembinaan jumlahnya 190 orang dengan rincian 150 orang pengawas pendidikan tingkat SMP dan SMA siswa mengawasi tingkat SD.

Namun, diakui Maman tugas mereka itu tidak mudah dengan bentang jarak Kabupaten Sukabumi pekerjaan mereka menjadi tidak optimal apalagi mengawasi sekolah yang berada di pelosok.

"Untuk memaksimalkan kinerja mereka kami juga menugaskan setiap Unit Pelayanan Terpadu Disdik yang ada di setiap kecamatan untuk ikut membantu dalam melakukan pengawasan," kata Maman.

Ia menambahkan, LKS yang paling ideal adalah LKS buatan guru, karena tiap sekolah pasti berbeda cara pemahaman dan pengajarannya yang diberikan ke setiap murid, maka dari itu LKS yang dijual oleh penerbit sangat tidak layak untuk dijadikan bahan acuan pembelajaran.

"Ada empat kriteria buku untuk pelajar yang boleh beredar, yakni keterbacaan atau bahasa yang baik dan benar, grafika, kebenaran konsep dan tidak mengandung unsur SARA," tambahnya.

Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : Antara
Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  dian Rabu, 30 Januari 2013, 13:45
Nggak ngaruh pa .. Anak saya di SD Sabang Bdg, wajib membeli Buku Paket + LKS nilainya kurang lebih 500rban, disetujui dgn Ketua POTK lagi .. walaupun ada dana BOS .. sayang tdk ada tindakan dari Dinas Setempat.
  Mahardika Rabu, 25 Juli 2012, 10:32
Anak saya sekolah di SD Negeri 05 Sudimara, dan diharuskan membeli buku LKS sebesar Rp. 200.000,-
dan harus membeli ke penjual di sebuah rumah yang jaraknya dekat dengan sekolah.

Mohon di tindak lanjuti !!!