Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 / 19 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sekolah Favorit di Bekasi Butuh 'Sentuhan'

Rabu, 13 April 2011, 20:20 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI - Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan Kota Bekasi, Jawa Barat, menyatakan pihaknya mencatat sejumlah sekolah berkualitas di wilayah setempat membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana. Kepala Dinas P2B Kota Bekasi, Rayendra Sukarmadji, di sela kegiatan inspeksi mendadak (Sidak) di SDN Jatimakmur V Kota Bekasi, Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondok Gede, Rabu (13/4), mengatakan sekolah tersebut diantaranya, SDN V Jatimakmur dan SMAN V Kota Bekasi.

"Untuk SDN V Jatimakmur kami mengalokasikan Rp600 juta dari APBD 2011. Dana itu untuk biaya pengelolaan Rp 33,6 juta, biaya perencanaan Rp 23,7 juta, biaya pengawasan Rp 16,1 juta, dan biaya pelaksanaan fisik untuk pembangunan empat ruang kelas baru Rp 526 juta," katanya.

Menurut dia, SDN V Jatimakmur merupakan kategori sekolah berstandar nasional. Namun, sebanyak tiga lokal bangunan masing-masing ruang kelas IB/IIB, Kelas IA/IIA, Kelas VA mengalami kerusakan akibat belum pernah mengalami rehab sejak tahun 1991. "Sekolah ini mendapat prioritas perbaikan pada tahun 2011. Sebab, jumlah peminatnya cukup tinggi sementara kualitas sarananya kurang menunjang," kata Ray.

Selain itu, SMAN V Kota Bekasi di Jatiwaringin, Pondok Gede, juga menerima dana rahabilitas sebesar total Rp 900 juta. Biaya tersebut meliputi, dana pengelolaan Rp 39,9 juta, biaya perencanaan Rp 31,6 juta, biaya pengawasan Rp 21,8 juta, dan biaya pelaksanaan fisik Rp 806,7 juta. "Pada tahun ini kami berencana melaksanakan pembangunan fisik berupa ruang laboratorium IPA dan pilar penyangga sekolah," katanya.

Dikatakan Ray, Pemerintah Kota Bekasi menganggarkan Rp 18 miliar untuk perbaikan sarana pendidikan. Dengan tambahan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat Rp 10 miliar. Total dana untuk pembangunan sarana pendidikan mencapai Rp 28 miliar. "Namun total dana tersebut hanya cukup untuk memenuhi 60 persen kebutuhan. Sehingga kita perlu memilah-milah berdasarkan skala prioritas," katanya.

Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : Antara
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  iqbal arneld vachruun Rabu, 28 Desember 2011, 21:19
knapa harus skolah favorit yg di prioritaskan, skolah yg lain juga mempunyai kebutuhan, banyak skolah baru yg hanya memiliki beberapa kelas, dan siswanya banyak yang numpang di sd, gmana tuh.
  ps Kamis, 14 April 2011, 12:40
coba daerah lain meniru langkah pemda bekasi seperti ini pasti pendidikan akan lebih maju. jadi kalau mau dapat bantuan tdk perlu mengususng2 proposal kesana kemari, ujung2nya anggota dewan yg 'memperjuangkan' dg sesuatu yg tdk lyk mereka terima.