Sabtu 05 Jul 2014 02:45 WIB

Cucu Hasyim Asy'ari: Ide Hari Santri Akan Timbulkan Perpecahan Umat

Relawan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) memperlihatkan baju bergambar pasangan Capres dan Cawaprews saat memberikan dukungan di Jakarta, Senin (9/6).
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Relawan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) memperlihatkan baju bergambar pasangan Capres dan Cawaprews saat memberikan dukungan di Jakarta, Senin (9/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Pusat Persatuan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PP PSNU) Pagar Nusa mencermati janji untuk menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional berpotensi memecah belah umat Islam. 

 “1 Muharam sudah diperingati sebagai Tahun Baru Islam dan sudah barang tentu milik seluruh umat Islam, tanpa memandang status sosialnya di masyarakat. Jika 1 Muharam ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional sama artinya itu menafikan umat Islam lainnya, yang juga berpotensi menimbulkan perpecahan,” kata Ketua Umum PP PSNU Pagar Nusa Aizzudin Abdurrahman, Jumat (4/7).

Tokoh yang kerap disapa Gus Aiz ini melihat, penetapan 1 Muharam sebagai hari santri juga bertentangan dengan prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin. Lantaran momen Muharam menjadi sesuatu yang sakral, yakni dilarang melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan pertikaian.

 

Jika 1 Muharam ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, ujar Gus Aiz, justru berpotensi memecah belah, berpotensi menimbulkan pertikaian. Bulan Muharam, menurut cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari ini, terdapat berbagai macam keutamaan yang semuanya digaransi Allah. Sehingga kaum santri dinilai tidak etis apabila mengklaim secara sepihak keutamaan tersebut.

“Sebaliknya, santri sebagai bagian dari umat Islam itu sendiri, sangat dianjurkan mengisi bulan Muharam dengan ibadah sunnah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Prinsip ke-NU-an, tawazun, tasamuh, tawasuth dan i'tidal tidak boleh bengkok apalagi luntur,” tegas Gus Aiz.

Di sisi lain, Gus Aiz melihat janji penetapan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional hanyalah komoditas politik menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden, di mana santri tidak semestinya dijadikan martir untuk diadu domba.

“Yang juga harus dicermati, tidak ada catatan sejarah untuk dijadikannya 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Perjuangan para santri sudah tercermin dalam Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika. Tanpa harus diperingati, masyarakat tahu, santri memiliki saham atas berdirinya bangsa ini. Menurut saya, gagasan itu lebih banyak mudlarat daripada manfaatnya, ini yang harus dijaga” jelas Gus Aiz.

Calon Presiden Joko Widodo dalam kampanyenya di Malang, Jawa Timur beberapa saat lalu, menyetujui ditetapkannya 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Jokowi beralasan santri adalah kearifan lokal yang sudah selayaknya dijadikan kearifan nasional.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement