Senin , 04 Desember 2017, 12:20 WIB

Benarkah Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan?

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Winda Destiana Putri
VOA
Mobil Listrik
Mobil Listrik

REPUBLIKA.CO.ID, Tempat dimana tidak ada emisi berbahaya dari bensil maupun diesel, serta udara di pusat kota yang bersih layaknya Resort Alpine kelas eksklusif mungkin menjadi impian semua orang saat ini. Salah satu ide terbaru yang ditawarkan adalah mobil listrik, sehingga udara akan lebih bersih dan bebas Karsinogen, yaitu zat yang dapat mengendap dan merusak organ paru-paru, serta menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel tubuh.

Diperkirakan sekitar 40 ribu jiwa di Inggris meninggal setiap tahunnya karena polusi udara. Sejatinya telah banyak kota dan negara yang berencana untuk melakuan pelarangan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel dalam dua dekade ke depan. Oktober lalu, Oxford City Council mengumumkan akan menyingkirkan kendaraan bensin dan diesel dari beberapa jalan pada 2020 nanti, dengan tujuan untuk mencapai target pada 2035 nanti.

Selain itu, di Prancis, pemerintahan presiden Emmanuel Macron mendeklarasikan berakhirnya penjualan mobil berbahan bakar bensin dan diesel pada 2040 yang menurut menteri ekologi Prancis, dikatakan sebagai 'revolusi yang sesungguhnya'. Belanda juga merencanakan rencana yang sama dalam kurun waktu delapan tahun ke depan, bahkan India telah mempertimbangkan penerapan larangan tersebut pada 2035 nanti.

Sementara itu, Pemerintah Inggris juga telah mengumumkan aspirasi untuk seluruh kendaraan baru berkekuatan listrik dan emisi ultra-low pada 2014 nanti. Meskipun jika dibandingkan dengan negara lain, Inggris dianggap kurang ambisius namun menteri mereka mengirimkan sinyal yang jelas tentang rencana penerapan mobil listrik.

Namun, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memeriksa kembali segala hal tentang mobil listrik, dan menyadari bahwa mobil listrik juga dapat menjadi sangat berpolusi seperti halnya mobil bensin dan diesel. Penelitian terakhir yang belum lama ini diterbitkan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dapat menghapuskan raut kebanggan dari ribuan pemilik mobil listrik.

Boffins dari Lab Trancik telah menunjukkan bahwa sedan Tesla model S P100D yang berenergi listrik dapat menghasilkan lebih banyak karbondioksida dengan 226 gram per kilo meter, dibandingkan mobil berbahan bakar bensin seperti Mitsubishi Mirage yang hanya menghasilkan karbondioksida sebanyak 192 gram per kilometer.

Pada akhirnya pemilik Tesla akan meremehkan mesin listrik dan menyatakan bahwa penelitian MIT yang didukung Universitas Sains dan Teknology Norwegia yang menyatakankan bahwa kendaraan listrik yang lebih besar dapat memiliki siklus hidup rumah kaca dengan emisi gas yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional yang lebih kecil' adalah sebuah anomali.