Kamis , 26 October 2017, 16:20 WIB

Honda Fokus Produksi Mobil BBM di Indonesia

Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Firkah Fansuri
Seorang pengunjung sedang memperhatikan salah satu produk mobil Honda di arena pameran Tokyo Motor Show di Tokyo Rabu (25/10).
Seorang pengunjung sedang memperhatikan salah satu produk mobil Honda di arena pameran Tokyo Motor Show di Tokyo Rabu (25/10).

REPUBLIKA.CO.ID, laporan Firkah Fansuri, wartawan republika.co.id dari Tokyo Motor Show di Jepang

TOKYO -- Honda Motor Company fokus mengembangkan mobil berbahan bakar minyak di Indonesia. Peluang yang masih sangat besar dikendaraan berbahan bakar minyak ini membuat Honda belum berencana mengembangkan mobil tipe lain.
 
Chief Officer Regional Operations(Asia&Oceania) Honda Motor Co Ltd dan President and CEO Asian Honda MotorCo Ltd Shinji Aoyama mengatakan Honda melihat masih banyak potensi pasar mobil berbahan bakar minyak yang belum digarap di Indonesia.  "Karena itu kami masih akan fokus di situ dulu," ujarnya dalam jumpa pers dengan wartawan dari sejumlah negeri di Tokyo,Kamis (26/10).
 
Aoyama yakin peluang Honda untuk memperbesar pasar di Indonesia terbuka  dengan fokus mengembangkan mobil berbahan bakar minyak. Hal yang sama juga akan dilakukan Honda di negara Pakistan dan Vietnam.
 
Dalam beberapa tahun terakhir ini Honda secara global fokus mengembangkan kendaraan yang sangat ramah lingkungan. Mobil tersebut dirancang bermesin listrik atau berbahan hidrogen yang menghasilkang as buang berupa air dan tidak menimbulkan polusi.

Di ajang Tokyo Motor Show 2017, Rabu (25/10) yang dibuka khusus untuk para jurnalis dari berbagai negara,  Honda menampilkan  mobil elektronik di panggung utama boothnya. Mobil tersebut adalah Honda NeuV, Honda Urban EV Concept yang sudah diperkenalkan bulan lalu di Frankfurt  Motor Show, dan Honda Sport EV Concept yang diperkenalkan kemarin.
 
Selain itu Honda juga meluncurkan varian baru sedan Clarity. Kali ini Clarity yang ramah lingkungan  namanya Clarity Plug-in Hybrid. Sebelumya produk sedan Clarity berbahan bakar hidrogen dan bermesin listrik sudah diluncurkan terlebih dahulu.
 
Aoyama menjelaskan ada beberapa yangdipertimbangkan untuk mengembangkan mobil ramah lingkungan ke satu negara. Untuk mencapai produksi yang ekonomis maka penjualan mobil ramah lingkungan harus dalam jumlah tertentu.
 
Direktur Marketing dan Purna Jual PT HondaProspect Motor Jonfis Fandi mengatakan biaya produksi mobil ramah lingkungan umumnya lebih mahal dibandingkan mobil berbahan bakar minyak. Menurutnya tanpaadanya insentif perpajakan, penjualan mobil ramah lingkungan seperti mobil hybrid akan sulit bekembang. Karena harga mobil ramah lingkungan yang jauhlebih mahal dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
 
Jonfis mencontohkan penjualan mobil Honda di Jepang,30 persen diantaranya disumbangkan dari mobil hybrid.  Angka penjualan tersebut karena disokong olehinsentif perpajakan dari pemerintah. "Di Indonesia juga kalau ada insentif pemerintah untuk mobil hybrid, kami akan mempertimbangkan untuk menjual diIndonesia," kata Jonfis kepada Republika.co.id