Senin , 11 September 2017, 12:18 WIB

Penjualan Mobil Kei di Jepang Turun Drastis karena Pajak

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Winda Destiana Putri
Carscoops
Penjualan Mobil Kei Jepang Turun Drastis Karena Pajak.
Penjualan Mobil Kei Jepang Turun Drastis Karena Pajak.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Angka penjualan mobil Kei di Jepang dilaporkan semakin turun beberapa tahun terakhir karena pajak tinggi. Padahal sebelumnya, kendaraan yang namanya berasal dari istilah Kei Jidoasha (mobil ringan) itu merajai otomotif Jepang sejak masa Perang Dunia II.

Laman Carscoops melaporkan, pemerintah Jepang mulai menerapkan pajak tinggi atas bensin dan penjualan mobil Kei pada 2014. Kala itu, popularitas mobil jenis ini sedang berada pada puncaknya dengan angka penjualan 2,27 juta unit per tahun.

Pemerintah Jepang diketahui melakukan hal tersebut sebagai upaya memperkenalkan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar. Setelah kenaikan pajak sebesar 50 persen, angka penjualan mobil anjlok menjadi hanya 1,72 juta unit per tahun pada 2016.

Meski demikian, masih ada jutaan penggemar otomotif Jepang yang setia memakai mobil kei. Sejumlah produsen mobil terkemuka di negeri sakura tersebut juga percaya bahwa mobil kei masih akan memegang peranan pentibg dalam industri otomotif Jepang.

Wakil Presiden Pemasaran Kendaraan Domestik Nissan Asako Hoshino berpendapat, mobil kei tidak akan sepenuhnya hilang dari peredaran. Menurut Hoshino, mobil kei justru bisa berkembang di tahun-tahun mendatang berkat tren mobil ramping di Jepang.

"Mobil menjadi simbol kesuksesan di Jepang sekitar 20 tahun silam, tetapi sekarang hal tersebut tidak lagi dianggap penting. Tren saat ini adalah bagaimana mengurangi ukurannya," ungkap Hoshino.

Pembatasan yang saat ini berlaku membuat produsen mobil kei harus menggunakan motor mesin kurang dari 660 cc dan merampingkan lebar mobil kurang dari 1,48 meter. Meski terkesan aneh, perampingan itu membuat kendaraan menjadi 6.000 dolar AS (sekitar Rp 80 jutaan) lebih murah dibandingkan mobil konvensional.

Berita Terkait