Jumat , 16 June 2017, 06:41 WIB

Mobil Prima, Mudik Pun Sentosa

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Yudha Manggala P Putra
Antara
Mudik menggunakan mobil pribadi.
Mudik menggunakan mobil pribadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Indonesia memiliki tradisi mudik setiap musim lebaran tiba. Pulang ke kampung halaman dengan menempuh jarak perjalanan yang relatif jauh biasa dilakukan para pemudik demi bertemu keluarga dan kerabat.

Keamanan dan kelancaran perjalanan mudik tentu menjadi hal penting yang juga harus diperhatikan. Jangan sampai perjalanan yang dilakukan justru mendulang masalah yang mengurangi kenyamaman apalagi menghambat laju mudik.

Perawatan serta pemeriksaan kendaraan baik roda dua atau roda empat menjadi hal penting yang harus dilakukan sebelum bertolak menuju kota kelahiran. Pemudik harus memastikan kendaraan yang digunakan dalam kondisi prima.

"Pastikan dulu service terakhir kapan, kondisi oli mesin dan kapan terakhir ganti, air pendinginan hingga kondisi rem masih oke apa enggak," kata Technical Service Executive Coordinator PT Astra Daihatsu Motor, Anjar Rosjadi kepada Republika.co.id di Jakarta, Kamis (15/6).

Tidak ada waktu khusus terkait service rutin yang harus dilakukan sebelum perjalanan mudik. Namun, Anjar mengatakan, paling tidak tiga pekan atau satu bulan sebelum perjalanan dimulai kendaraan sudah masuk bengkel. "Servis berkala itu ada ketentuan-ketentuannya untuk memastikan kendaraan dalam kondisi yang selalu oke," tegas Anjar.

Kendati kendaraan yang sudah mendapatkan perawatan berkala dalam kondisi prima, bukan berarti masalah tidak akan muncul. Anjar mengatakan, misalnya saja kasus ban bocor, mesin yang mengalami panas berlebih atau rem yang kurang berfungsi bisa saja muncul.

Selama perjalanan bukan tidak mungkin ban terkena benda tajam atau hal lain yang dapat mengurangi tekanan udara didalamnya. Ketersediaan ban cadangan siap pakai menjadi hal yang juga harus disediakan pemudik.

Anjar mengatakan, ban yang mengalami kerusakan juga harus segera diperbaiki sebagai langkah antisipasi kejadian serupa. Tinggal, dia menambahkan, pemudik harus selalu memperatikan tekanan dalam ban yang juga mempengaruhi keselamatan mudik.

Kepadatan arus mudik atau arus balik merupakan permasalahan rutin yang harus dihadapi pemudik bersama kendaraannya. Kondisi itu membuat kopling kendaraan menjadi lebih cepat haus terlebih pada mobil manual. "Pengendara suka memainkan kopling saat macet dan kalau cara mainnnya nggak baik itu kopling bisa jadi cepet haus," katanya.

Dalam kondisi macet, kendaraan juga berpotensi mengalami panas berlebih. Namun, Anjar mengatakan, hal tersebut dapat terjadi kalau sebelum berangkat sistem pendingin sudah mengalami masalah dan dipastikan tidak dalam kondisi sempurna.

Kalau hal itu terjadi, pemudik bisa memanfaatkan air mineral untuk terus mendinginkan mesin. Anjar mengatakan, pengguna lantas berjalan secara perlahan sambil memperhatikan indikator suhu mesin.

"Kalau indikator naik ke overheat harus berhenti, dinginin dulu baru jalan lagi dan segera periksakan ke bengkel terdekat," katanya.

Hal lain yang harus diperhatikan tentu sistem pengereman. Anjar mengatakan, pemudik harus memastikan mekanisme rem, cairan dan ketebalan kanvas dalam kondisi sempurna. Kalaupun di tengah perjalanan sistem pengereman mengalami masalah semisal blong, Anjar mengatakan, hal tersebut biasanya sudah dapat dirasakan pengendara.

Anjar menjelaskan, saat kanvas melewati batas penggunaan rem akan menjadi kurang pakem. Atau cairan rem yang tidak pernah diganti atau kotor, atau mengandung udara membuat rem menjadi ngempos.

"Tapi ini semua tidak akan terjadi kalau mobil rajin diperksa karena teknisi akan mengingatkan tidak hanya terkait keselamatan tapi juga kenyamanan, seperti lampu atau AC," katanya.