Rabu , 01 November 2017, 21:37 WIB

PBSI Nilai Positif Hasil Denmark-Prancis 2017

Red: Endro Yuwanto
PBSI
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti menilai positif hasil para pebulu tangkis level utama Pelatnas PBSI di Denmark Terbuka 2017 dan Prancis Terbuka 2017.

Berdasarkan data yang diterima pada Rabu (1/11) di Denmark pada 17-22 Oktober 2017, Indonesia menempatkan satu finalis lewat ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo serta dua semifinalis lewat duet ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi.

Pada putaran final, Marcus/Kevin harus mengakui keunggulan juara dunia 2017 asal Cina Zhang Nan/Liu Yuchen dengan skor 16-21, 24-22, dan 19-21.

Sementara di Prancis pada 24-29 Oktober 2017, skuat Merah-Putih memboyong dua gelar dari pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Greysia/Apriani yang tak diunggulkan berhasil membuat kejutan dengan meraih gelar juara usai menumbangkan para unggulan dari Jepang, Cina, dan Korea Selatan.

Greysia/Apriani merebut titel juara setelah menumbangkan Lee So Hee/Shin Seung Chan (Korea Selatan), dengan skor 21-17, 21-15. Sementara Tontowi/Liliyana mengalahkan unggulan pertama dari Cina Zheng Siwei/Chen Qingchen dengan skor 22-20, 21-15.

"Hasil di Denmark dan Prancis sangat baik, karena kami mampu merebut dua gelar super series dan khususnya di ganda putri yang sudah 20 tahun tidak juara di Prancis. Semoga hasil ini memberi semangat baru dan menular ke atlet sektor lain, agar dapat memacu diri, kerja keras, untuk dapat menghasilkan prestasi terbaik di kejuaraan-kejuaraan penting yang akan datang," kata Susy.

Susiy menilai sektor ganda campuran, ganda putra serta ganda putri telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Namun sektor tunggal putra dan putri masih perlu konsistensi dan kerja keras lebih.

"Tunggal putra dan tunggal putri masih belum konsisten, butuh fokus kematangan dalam menghadapi setiap lawan, serta kesiapan dalam menghadapi lawan yang berbeda-beda," jelas Susy. "Untuk tunggal putri, kami masih harus kerja keras agar bisa masuk ranking elite dunia, kami usahakan dalam waktu satu-dua tahun yang akan datang untuk bisa mencapai prestasi yang lebih tinggi seperti di level super series."

Sementara itu, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI Eng Hian mengungkapkan apresiasinya atas raihan Greysia/Apriani. Pasangan senior-junior ini merupakan hasil racikannya yang baru digabungkan pada Piala Sudirman 2017, Mei lalu.

"Waktu melihat hasil pertandingan mereka di Korea dan Jepang Open, saya bilang sama Yusuf Chafidz (Asisten Pelatih Ganda Putri PBSI), kalau melihat performa Greysia/Apriani begini, tinggal nunggu waktu saja, kapan `pecah telor¿. Melihat kualitas mereka, memang sudah bisa bersaing di kelas atas. Namun cukup surprise juga mereka menangnya di Prancis, tidak menduga secepat ini," ujar Eng Hian.

Disebutkan Eng Hian, setelah meraih gelar ini, tugas Greysia/Apriani tentu belum selesai. Keduanya bahkan harus mampu mengontrol ekspektasi berbagai pihak yang dibebankan kepada mereka ke depannya. "Harus bisa menjaga ekspektasi diri sendiri, pengurus PBSI dan masyarakat. Pokoknya sekarang fokus dulu ke diri sendiri," jelas dia.

Usai dua tur Eropa, para pebulu tangkis akan bersiap untuk mengikuti kejuaraan Cina Terbuka Super Series Premier 2017 dan Hong Kong Terbuka Super Series 2017. Para pemain elite juga sedang berburu poin untuk dapat tampil di kejuaraan bergengsi Final Super Series 2017 di Dubai.

Sumber : Antara