Rabu , 15 November 2017, 10:25 WIB

Bos Tim Honda Pensiun dari MotoGP (2-Habis)

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Endro Yuwanto
Antara/Yudhi Mahatma
Pembalap MotoGP Tim Repsol Honda Marc Marquez (kedua kiri) dan Dani Pedrosa (kedua kanan) bersama Vice President Honda Racing Corporation Shuhei Nakamoto (kiri) serta Team Principal Repsol Honda MotoGP Livio Suppo (kanan) menyapa penggemar saat peluncuran
Pembalap MotoGP Tim Repsol Honda Marc Marquez (kedua kiri) dan Dani Pedrosa (kedua kanan) bersama Vice President Honda Racing Corporation Shuhei Nakamoto (kiri) serta Team Principal Repsol Honda MotoGP Livio Suppo (kanan) menyapa penggemar saat peluncuran

REPUBLIKA.CO.ID, VALENCIA -- Bos Tim MotoGP Honda, Livio Suppo memutuskan pensiun tahun ini. Dia adalah orang non-Jepang pertama yang mengepalai tim MotoGP sejak 2010.

Selama berkarier di kelas primer, Suppo telah memenangkan enam gelar juara dunia dari enam pembalap dan lima pabrikan. Dia memulai kariernya di kelas 125cc bersama Playtime dan Marco Melandri, sebelum pindah ke kelas 250cc bersama Ukawa, kemudian ke MotoGP bersama Ducati.

ROLer, berikut adalah petikan wawancara bersama Suppo, dilansir dari GPOne, Rabu (15/11).

T: Apa kenangan paling indah sepanjang karier Anda?

J: Gelar dunia 2007 bersama Ducati, itu adalah kenangan paling istimewa. Saya bekerja keras di MotoGP saat beralih ke ban Bridgestone. Jadi, saya benar-benar merasa proyek itu mikik saya.

T: Kenangan bersama HRC?

J: Ketika saya melihat kartu nama saya berlogo HRC, saya benar-benar emosional. HRC selalu menjadi rujukan saya selama ini. Seperti anak laki-laki yang menaruh stiker kebanggaannya di sepeda. Nakamoto menunjuk saya. Saya menjadi tim inti pertama yang berasal dari luar Jepang dan itu adalah kenangan terbaik.

T: Mereka sekarang perlu mencari pengganti Anda. Apakah Anda ada masukan untuk mereka?

J: Saya tidak dalam kapasitas itu. Ini bukan lagi hak saya untuk memengaruhi keputusan mereka.

T: Anda pernah bekerja di Ducati dan Honda. Apa perbedaan keduanya?

J: Keduanya adalah pabrikan hebat yang anggotanya banyak orang Eropa. Jadi, sesungguhnya tidak ada perbedaan antara keduanya. Ketika saya berada di Ducati, salah satu keuntungan kami adalah kecepatan kami mengambil keputusan. Kami cukup mengobrol dengan Preziosi dan Domenicali. HRC lebih struktural dalam pengambilan keputusan, namun cukup efisien dan cepat.

T: Anda ikut menentukan kesuksesan Casey Stoner dan Marc Marquez. Siapa yang terbaik di antara keduanya?

J: Marc pastinya, karena bekerja dengannya sangat menyenangkan. Casey punya bakat luar biasa, sama dengan Marquez tapi Marquez lebih spesial. Kami menandatangani kontrak pertama pada 2011. Saya pikir setelah mendapat uang dan ketenaran dia akan berubah. Tapi, Marc tetap sama. Itulah yang paling saya hargai dari dia.

T: Apakah Anda masih akan menyaksikan tes terakhir Honda?

J: Ya, tentu saja. Saya ingin melihat Franco Morbidelli debut bersama Honda.

 

BACA: Bos Tim Honda Pensiun dari MotoGP (2)