Rabu , 08 November 2017, 11:26 WIB

Cerita Si Kuda Putih dan Kuda Hitam Dovizioso di MotoGP

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Israr Itah
EPA-EFE/AHMAD YUSNI
Andrea Dovizioso
Andrea Dovizioso

REPUBLIKA.CO.ID, VALENCIA -- Sejak Andrea Dovizioso merayakan kemenangan pertama di GP Malaysia 2016 setelah delapan tahun membalap, sosoknya menyedot banyak perhatian. Pada 2017, pembalap Ducati Corse ini memenangkan enam balapan, sama halnya dengan Marc Marquez.

Butuh waktu lebih dari delapan tahun bagi Dovi merayakan kemenangan keduanya di kelas utama setelah kemenangan pertama di balapan basah Silverstone bersama Repsol Honda. Dia berhasil Oktober 2016 di Sepang bersama motor Ducati.

Pada 2017, kemampuan Dovi semakin meningkat. Enam kemenangan dan dua podium, dua dan tiga telah diraih Desmodovi di 17 balapan. Di balapan pamungkas Valencia, pembalap Italia ini harus bisa memenangkan 21 poin dari Marquez jika ingin menjadi juara dunia tahun ini.

Dovi mencapai puncak kariernya di usia 31 tahun ada alasannya. Ayah dari Sara Dovizioso ini mengatakan semua pembalap mengandalkan tubuh sehat untuk membalap, namun kepala alias otak memainkan peran jauh lebih besar.

"Banyak yang tidak mau menginvestasikan waktu untuk mental dan isi kepalanya karena dianggap aneh dan lucu. Padahal, ada banyak ruang yang harus diperbaiki di sana. Saya menemukan sesuatu sangat menarik dan itu berhasil. Itulah salah satu alasan saya kompetitif tahun ini," kata Dovi, dilansir dari Speedweek, Rabu (8/11).

Jika seorang pembalap melihat seluruh hal dari sisi positif, sebut Dovi dampaknya sangat besar. Ini semua tentang persepsi dan pemikiran pembalap sebelum berada di lintasan.

"Banyak pembalap lebih dulu memikirkan hal-hal buruk dan melihat keterbatasan kemampuannya sebelum balapan. Padahal, batasan tersebut cuma diciptakan pikiran mereka. Ini memang sepele, tapi efeknya sangat besar," kata Dovi.

Pendiri Clinica Mobile dan mantan dokter MotoGP, Dokter Costa dan Dovi sering berbicara tentang kuda hitam dan kuda putih, dalam artian sisi rasional dan irasional pembalap. Dovi selama ini dinilai terlalu rasional.

"Dia bilang saya hanya menggunakan sisi rasional saya, sehingga emosional saya tak bekerja. Dia bilang saya sering berpikir ada yang kurang atau ada yang salah dari motor saya, dan ternyata pemikirannya terhadap saya itu benar. Setiap kali saya masuk lintasan, saya mengandalkan kuda hitam lebih banyak dibanding kuda putih," kata Dovi.

Semua berubah ketika Dovi mengubah pola pikirnya. Baginya, seorang pembalap sewaktu-waktu membutuhkan sisi irasional dominan. "Tahun ini saya melakukannya dan itu berhasil," kata Dovi.