Jumat , 03 November 2017, 08:54 WIB

Celoteh Carlo Pernat Soal Ducati, Honda, dan Yamaha

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Endro Yuwanto
REUTERS/Olivia Harris
Balap MotoGP
Balap MotoGP

REPUBLIKA.CO.ID,  VALENCIA -- Veteran paddock MotoGP, Carlo Pernat (69 tahun) adalah Direktur Olah Raga Aprilia Reparto Corse di era kejayaan Aprilia 1990-an. Pembalap-pembalap seperti Max Biaggi, Loris Capirossi, Valentino Rossi, dan Tetsuya Harada menyumbang gelar juara dunia 250cc bagi Aprilia saat itu.

Pernat sukses menaikkan nama Aprilia. Ia kembali sebagai manajer pribadi pembalap-pembalap, seperti Simoncelli, Capirossi, Iannone, De Angelis, dan Corsi.

Baru-baru ini Pernat memberi bocoran mencengangkan. Ia menyebut Marc Marquez ditawari gaji senilai 20 juta euro untuk KTM dan Red Bull. Jika kondisi KTM menjanjikan di paruh pertama musim 2018, Marquez berniat mencoba tantangan itu.

Sebagai perbandingan, gaji Lorenzo di Ducati saat ini termasuk tertinggi. Ia menerima kontrak 12,5 juta euro atau setara Rp 177 miliar di bawah The Reds. Setelah Andrea Dovizioso menang keenam kalinya di Sepang, Pernat menganalisis rahasia keberhasilan The Reds musim ini.

"The 3D menang, Dovi, Ducati, dan Dall'igna. Ini adalah alfabet Italia yang baru. Memang akan sulit bagi Ducati di final Valencia, namun semua hal bisa terjadi," bisik Pernat dilansir dari Speedweek, Jumat (3/11).

Ducati, kata Pernat, sudah menjadi juara dunia secara tak langsung. Dovi, Ducati, dan Dall'igna telah menyelesaikan tugasnya dengan membuat langkah maju.
"Ducati sudah juara dunia di mata saya dengan mempertimbangkan apa yang sudah mereka lakukan tahun ini," kata dia.

Pernat mengenal Ducati sudah lama mengingat ia empat tahun menjadi manajer Iannone. Ia menekankan seorang pembalap, manajer, dan pabrikan harus saling bekerja sama membuka jalan kesuksesan. "Dall'igna bergabung ke Ducati pada saat yang tepat. Ia sangat tekun untuk urusan balap," katanya.

Pernat juga menunjukkan rasa hormat pada Marquez. Ia melihat Marquez tetap senang dengan finis keempat di Sepang, meski pun itu adalah salah satu hasil balapan terburuknya tahun ini. "Tanpa Marquez, Honda tak akan memenangkan gelar apapun beberapa tahun terakhir," sebutnya.

Pernat tak ketinggalan mengomentari Yamaha. Ducati menjadi referensi untuk semua lawan tahun ini, tak terkecual Yamaha. Pabrikan Jepang itu dinilainya sangat lemah di balapan basah dan akan terus di bawah Ducati jika tak memperbaikinya.